Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Pemerintah Bantah Terjadi Rawan Pangan di TTU
Regional NTT

Pemerintah Bantah Terjadi Rawan Pangan di TTU

By Redaksi15 September 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT- Dinas Pangan TTU membantah adanya pemberitaan yang menyebutkan kabupaten  itu mengalami rawan pangan.

Pemerintah berdalil, hingga bulan Agustus 2017 dari 100 ton cadangan beras yang disimpan oleh Dinas Sosial, baru sekitar 30,5 ton yang disalurkan .

Selain itu, cadangan beras 20 ton yang tersimpan di Dinas Pangan dan Badan penanggulangan Bencana Daerah hingga kini belum disalurkan kepada masyarakat TTU.

“Kalau kurang beras itu, mungkin benar tetapi belum bisa dikatakan rawan pangan karena ketersediaan pangan lain seperti umbi-umbian dan pisang, serta pangan lain masih cukup banyak dimiliki oleh masyarakat,” tegas Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Pangan TTU, Robertus Nggorong saat ditemui VoxNtt.com pada acara pameran dan expo yang digelar di Lapangan Oemanu, Kefamenanu, Kamis (14/9/2017).

Robertus menjelaskan sesuai dengan hasil pendataan di lapangan, saat ini baru 27 desa yang berstatus waspada terhadap kerawanan pangan.

Baca: Seluruh Desa dan Kelurahan di TTU Alami Rawan Pangan

Ke-27 desa tersebut tersebar di Kecamatan Bikomi Utara, Bikomi Selatan, Bikomi Nilulat, Bikomi Tengah, serta Kecamatan Noemuti dan Timur.

“27 desa tersebut statusnya baru garis kuning atau waspada belum garis merah atau darurat. Jadi saya tegaskan tidak benar kalau masyarakat TTU sudah mengalami rawan pangan,” tegasnya.

Robertus menambahkan, saat ini tim penggerak PKK Kabupaten TTU juga sudah berupaya untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pengolahan pangan lokal.

Hal itu terbukti dari banyaknya hasil olahan pangan lokal yang dipamerkan di stan-stan pameran milik kecamatan-kecamatan di TTU.

“Kemarin waktu pak wakil bupati keliling ke stan kecamatan,banyak hasil olahan pangan lokal yang dipamerkan dan di depan pak wakil bupati sendiri, ibu-ibu PKK dari kecamatan mengungkapkan bahwa itu hasil olahan masyarakat sendiri,” jelas Robertus.

Dia berjanji akan terus menggelar pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat agar lebih kreatif dalam pengolahan pangan lokal, sehingga dapat mengurangi ketergantungan akan beras dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. (Eman Tabean/AA/VoN)

TTU
Previous ArticleTito Karnavian dan Budaya Polisi
Next Article Wabup Malaka Tutup Usia

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

KPB Program TEKAD Ponggeok Manggarai Kembangkan Penyulingan Minyak Cengkih

4 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.