Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Lelah Hadapi Jalur Maut, Warga Lamba Leda Nilai YOGA Gagal
HEADLINE

Lelah Hadapi Jalur Maut, Warga Lamba Leda Nilai YOGA Gagal

By Redaksi20 September 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kondisi jalan Benteng Jawa-Bawe-Pota yang rusak. Tampak warga sedang menyiram dedak di jalan agar kendaraan bisa lewat (Foto: Ronal Janas)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Warga Kecamatan Lamba Leda mengaku sudah lelah berharap pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) untuk memperbaiki jalan Benteng Jawa-Bawe.

Pasalnya, sudah puluhan tahun era kepemimpinan Yoseph Tote dan Agas Andreas (Paket YOGA) memimpin Matim, jalan menuju Lamba Leda bagian timur itu tak kunjung diperbaiki.

Jalan yang cukup rusak sepanjang belasan kilometer. Diperparah batu-batu telford bertumpuk penuh di tengah jalan.

Jangan tanya lagi saat musim hujan, warga pengguna jalan itu hanya berpasrah. Sebab jalan licin di atas telford yang sudah tidak layak itu selalu menjadi sajian pahit bagi warga.

Kondisi jalan yang parah itu dibenarkan oleh tokoh muda asal Lamba Leda, Ronal Janas.

Kepada VoxNtt.com di Borong, Rabu (20/9/2017), Ronal mengatakan sudah dua periode kepemimpinan YOGA, masyarakat Lamba Leda pengguna jalan Benteng Jawa-Bawe belum menikmati buah dari pembangunan infrastruktur.

Warga tetap menggunakan jalan itu, meski nyawa menjadi taruhan saat menaiki kendaraan. Seolah tidak berdaya, sebab jalan Benteng Jawa-Bawe merupakan ruas vital bagi perekonomian masyarakat Lamba Leda bagian timur.

“Puluhan tahun jalur Benteng Jawa -Bawe tidak pernah diperhatikan pemerintah Matim. Pemerintah sepertinya tidak punya mata melihat penderitaan masyarakat,” ujar Ronal dengan kesal.

“Kami sebagai rakyat yang melintas jalur ini harus bertaruh nyawa  saat hasil komoditi kami angkut ke pasar dan ke kota demi menafkai hidup kami. Ini memang tidak adil. Namun, terpaksa kami harus jalani,” tambah dia.

Padahal menurut Ronal, infrastruktur jalan memegang peranan penting dalam roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan satu daerah. Keberadaan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan masyarakat miskin.

Kondisi jalan Benteng Jawa-Bawe-Pota yang rusak. Tampak warga sedang menyiram dedak di jalan agar kendaraan bisa lewat (Foto: Ronal Janas)

“Kalau jalan baik, pasti ekonomi masyarakat juga baik. Kita punya bagaimana mau masyarakat sejahtera, jalan saja tidak diperhatikan. Karena jalan jelek, biaya transportasi jadi mahal, harga sembako juga naik. Hasil akhirnya masyarakat miskin terus,” tukas Ronal

Karena itu sebagai rakyat, Ronal berharap agar pemerintah sebagai pemegang kekuasaan harus mendengarkan jeritan dan tangisan warga. Itu terutama agar segera membangun lapen di jalur Benteng Jawa-Bawe.

“Kami lelah berteriak. Sudah terlalu lama jeritan kami tidak dihiraukan oleh Pemda Matim,” katanya.

Siprianus Yanto, warga asal Kecamatan Lamba Leda lainnya mengharapkan kepada pemimpin Matim berikutnya untuk tidak mengulangi kegagalan YOGA.

Menurutnya, kebijakan pembangunan harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Sebab infrastruktur merupakan salah satu urat nadi kemajuan ekonomi.

“Kami hanya butuh aspalkan jalan, tidak lebih. Cukup penuhi itu saja. Kami terlalu sengsara melintasi jalan yang bagai kali itu. Kalau musim hujan, mobil kami dipenuhi dedak dan jalan penuh dengan tumpukan dedak. Tolong perhatikan kami. Kami juga bagian dari daerah ini,” demikian Sipri menjerit. (Nansianus Taris/Editor: Ardy Abba/VoN)

Manggarai Timur
Previous ArticleDi Rumah Perlindungan Perempuan, Suster Yosepina Membantu Warga Miskin
Next Article Hampir Dua Tahun, Warga Elsel Jalan Kaki 2 Kilometer Cari Sinyal Telepon

Related Posts

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Jalan Terbelah akibat Tanah Bergerak di Rana Poja Manggarai Timur, Warga Minta Pemerintah Atasi

2 Maret 2026

Viral Warga Meninggal saat Rujukan, Dinas PUPR Matim Akui Akses Jalan Rusak ke Puskesmas Belum Tertangani

27 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.