Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Pemkab Sikka Didesak Lakukan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
NTT NEWS

Pemkab Sikka Didesak Lakukan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

By Redaksi18 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Salah satu lahan pertanian di Sikka (Foto: istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT-Pegiat pemberdayaan petani di Sikka, Hery Naif mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka agar segera melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Bantuan pangan sifatnya darurart tetapi bila selalu jadi pilihan maka akan negatif. Pemda Sikka perlu mencari solusi agar tiga tahun ke depan usaha pertanian bisa lebih berkembang dari sekarang,” ujar Manager Program Wahana Tani Mandiri ini kepada VoxNtt.com saat dihubungi, Selasa (17/10/2017).

Menurut Hery instansi-instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Ketahanan Pangan perlu melakukan kajian guna menemukan akar masalah petani tidak mampu menghadapi kekeringan dan berujung rawan pangan.

Ada beberapa kemungkinan yakni pengelolaan sumber daya alam yang buruk dan kapasitas petani yang minim tanpa disertai teknologi yang memadai.

“Bisa jadi juga dikarenakan kebijakan pertanian kita belum menyentuh problem petani agar bisa beradaptasi dengan perubahan iklim,” jelas Hery.

Hery menganjurkan petani di Sikka belajar dari petani Palu’e.

Menurutnya petani Palu’e bisa bertahan dari kekeringan karena membudiyakan juga umbi-umbian.

“Tidak cukup hanya padi dan jagung. Kacang dan umbi-umbian akan membantu petani bertahan dari ancaman kelaparan. Karena itu harus tumpang sari,” tegasnya.

Sebelumnya, Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera mengeluarkan pernyataan rawan bencana di 33 desa pada tanggal 27 September 2017.

Pemda Sikka melalui BPBD, Dinas Sosial dan Dinas Ketahan Pangan telah menyerahkan bantuan beras ke sejumlah desa.

Rawan pangan yang terjadi di beberapa desa tersebut disinyalir karena terjadinya bencana badai dan kekeringan yang berakibat gagal panen.

Pada September 2017 lalu, BPBD Sikka menyatakan 50 desa yang tersebar di 11 kecamatan mengalami kekeringan panjang.

Sebelumnya pada Februari 2017 lalu, sebagian besar wilayah di Sikka dilanda badai yang merusakan bangunan dan tanaman.

Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticleTentang “Pribumi” dan Jakarta
Next Article Lima Partai di Ngada Terancam Tidak Ikut Pemilu 2019

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.