Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»WAETANAH (Ontologi Puisi Feliks Hatam)
Sastra

WAETANAH (Ontologi Puisi Feliks Hatam)

By Redaksi2 November 20162 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh. Feliks Hatam*

 

Waetanah

Waetanah

di sanalah kakiku pertama kali menginjakan bumi

di situlah tangisanku terdengar

Tangisan, tanda hadir dan adaku di tanah itu.

 

Waetanah

Itulah alamku

Kesunyuian alamku memberi arti akan cinta-Mu yang tak terbatas

 

Waetanah.

Kicaun burung membawaku dalam semedi

Air alamnya menyegarkan hati menapik harap

Ragam pesonanya, kusatukan dalam nada

Oh Tuhan, syukur pujianku untuk-Mu.

 

Waetanah,

Gunung kelilingnya bagai taman raksasa

Alang-alang menguliti padang berbukit

Bukan sulit menapakkinya

Setiap kaki melangkah, memberi arti bagi mata yang menatap

 

Waetanah

Tidak semua orang mengenalnya

Alamnya asri membahana mata yang menatapnya

Sejuk iklimnya hutan asli sumbernya.

 

Waetanah

Sejak nama itu ada, pelita memisahkanmu dari gelap

Aku tersesat dalam gelapmu yang pekat

 

Waetanah

Dalam langkah kuselalu berharap

Berharap untuk bebas dari asap

Asap yang terlahir dari pelita.

Kapan?

 

Waetanah

Penaku untukmu

Dalam tegap kami tulis demi masa depanmu

Dalam karya kami kenalkan namamu.

 

Kesadaran Yang Terlambat

Keheningan setia menemani

Jengkrit dalam sunyi bernyanyi

Kunang-kunang membawaku dalam harap

Dia isnpirasi tanpa ketergantungan, semoga

 

Hati resah bukan pasrah

Langkah henti bukan malas

Puasa bersuara, bukan habis gagasan

Tertegun dalam gelap mencari inspirasi di bawah purnama.

 

Rembulan sedikit memisahkan gelap

Sinarmu, kesetian sang mentari

Kumenapakki kaki menatapmu dalam kesendirian

Kutitipkan doa pada Pemilikmu, berharap mengutus penguatku

 

Teras rumahku adalah saksi

Pelita melihatkan air mataku

Tersipuh sedih yang hampa

Pelik menghadapi, Dia menguatkan. Sungguh.

 

Tubuh tercabik-cabik

Hati teriris

Air mata menghujani pipi

Teringat masa lalu yang teramat miris

 

Dari huniku untukmu

Hadirkan kebaikan dalam hidupmu

Pastikan langkah dan aksimu mulia

Matangkan katamu, benarkanlah sikapmu.

 

Nama

Nama itu selalu ada dalam nada

Nama itu memberi arti akan dalam rasa

Nama itu menuliskan arti tentang kesetiaan cinta

 

Nama itu selalu kugengggam

Nama itu akan kujaga untuk menjadi nama yang selalu ada

Nama itu kusatukan dalam doa

 

Tentang nama itu

Biarkanlahku berdoa untuk bersatu

Satu nama dalam mengembara

Satu nama mendayung bahtera kehidupan

AYAH

Engkau tak kelah lelah

Keringat darah membasahi tubuhmu

Pengorbananmu  semangat dalam setiap kisah yang terlukis.

 


Foto: Feliks Hatam
Foto: Feliks Hatam

*) Penulis adalah alumnus pendidikan Teologi STKIP St. Paulus Ruteng, sekarang tinggal di Ruteng.  E.mail: [email protected] /[email protected]

 

Previous ArticleKami Bukan Humba Yang Menuju Kemusnahan
Next Article Terminal Kembur Diduga Jadi Tempat Mesum

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.