Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Warga Elar: Mobil Kami Lebih Banyak Angkut Dedak daripada Penumpang
Regional NTT

Warga Elar: Mobil Kami Lebih Banyak Angkut Dedak daripada Penumpang

By Redaksi14 Desember 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sebas Amir, warga desa Golo Munde, Kecamatan Elar (Foto: Nansianus Taris/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT– Sebas Amir, warga asal Metik, Desa Golo Munde, Kecamatan Elar mengaku kesal dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Pemkab Matim).

Pasalnya, hingga kini pemerintah seakan masih membiarkan jalur transportasi ke wilayah Kecamatan Elar dan Elar Selatan rusak berat.

Bahkan setiap kendaraan penumpang yang beroperasi di dua kecamatan itu wajib mengangkut dedak. Lapisan luar butiran beras itu disiram di jalan yang licin agar ban kendaraan bisa melaju.

Bahkan Sebas mengaku, oto cold (truk kayu) dan jenis mobil lainnya yang beroperasi lebih banyak mengangkut dedak ketimbang penumpang jika hendak ke Borong dan Ruteng.

Dikatakan, kondisi jalan di Elar dan Elar Selatan sangat memprihatinkan.

“Jalan rusak sekali bagai kali mati saja, dan tidak bisa disebut jalan lagi. Bayangkan, kalau kami ke Ruteng, mobil penuh dengan dedak. Baik di begasi maupun di dalam mobil. Lebih banyak dedak daripada penumpangnya,” kata Sebas kepada VoxNtt.com saat bertemu di Borong, Kamis (14/12/2017).

Menurut dia, warga dari wilayahnya tak jarang menjerit agar jalan rusak bisa diperhatikan pemerintah. Namun, teriakan mereka seakan tidak didengar. Bahkan diabaikan oleh pemerintah.

“Kami kesal sekali. Mengapa di wilayah lain jalannya bagus. Kami lelah hadapi jalan rusak. Tetapi kepada siapa lagi kami berteriak ketika tidak ada yang mendengar dan memperhatikan kami,” ungkap Sebas dengan nada kesal.

Dia menambahkan, kondisi jalan dari Bea Laing-Watu Nggong-Elar sudah lama rusak. Namun tidak kunjung diperbaiki.

“Coba bayangkan, dari Elar sampai di Ruteng harus tempuh waktu 6 jam. Biaya juga mahal. Itu semua karena kondisi jalan sangat parah. Sampai di Borong dan Ruteng, badan kami terasa sangat capeh dan sakit karena lewat jalan rusak,” tutur Sebas.

 
Penulis: Nansianus Taris
Editor: Adrianus Aba

Manggarai Timur
Previous ArticlePWMT Beri Bantuan Sembako untuk Janda Miskin di Kembur
Next Article Kader PDI-P Diminta Menangkan Calon Kepala Daerah yang Diusung

Related Posts

Pemerintah Kecamatan Reok Barat Bantah Kontribusi ASN untuk HUT RI Merupakan Pungli

7 Agustus 2026

Progres Jalan Nasional Ruteng-Reo-Kedindi Capai 86 Persen, Ditargetkan Rampung Sebelum Musim Hujan

6 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026
Terkini

Pemerintah Kecamatan Reok Barat Bantah Kontribusi ASN untuk HUT RI Merupakan Pungli

7 Agustus 2026

Progres Jalan Nasional Ruteng-Reo-Kedindi Capai 86 Persen, Ditargetkan Rampung Sebelum Musim Hujan

6 Agustus 2026

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.