Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Draft RUU Masyarakat Adat Dikritik
HEADLINE

Draft RUU Masyarakat Adat Dikritik

By Redaksi31 Juli 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Deputi Politik dan Hukum PB AMAN, Erasmus Cahyadi (Foto: Are de Peskim)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT– Draft Rancangan Undang-Undang Pengakuan Masyarakat Adat yang saat ini sedang digodok DPR RI mendapatkan kritikan karena dinilai melemahkan posisi masyarakat adat.

Deputi Bidang Politik dan Hukum Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN), Erasmus Cahyadi, mengatakan ada 4 poin yang membahayakan posisi masyarakat adat nantinya.

“Di satu sisi kami mengapresiasi gerak maju RUU yang telah kami usulkan sejak 2011 lalu. Namun di sisi lain ada hal-hal prinsipil yang diamputasi sehingga bila ditetapkan pun RUU tersebut tidak menyelesaikan masalah,” terang Erasmus kepada VoxNtt.com di Maumere pada Selasa (31/7/2018).

BACA: UU Masyarakat Hukum Adat Segera Disahkan

Pertama, Draft RUU versi DPR mempersulit mekanisme pengakuan yang mana melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. Padahal, di beberapa undang-undang sektoral pengakuan dilakukan melalui produk hukum daerah.

Kedua, terdapat bab yang mengatur tentang evaluasi masyarakat adat yang mana memungkinkan terjadinya penghapusan suatu komunitas adat.

Ketiga, tidak ada suatu lembaga koordinatif lintas sektor yang mengurusi masyarakat adat seperti Komisi Masyarakat Adat.

Keempat, draft versi DPR RI tidak menyinggung masalah di masa lalu. Menurutnya, kebijakan di masa lalu turut berdampak pada kondisi masyarakat adat saat ini. Misalnya, terkait wilayah ulayat yang telah dikuasai pihak lain apakah dibiarkan saja atau dikembalikan kepada masyarakat adat.

“Makanya harus ada yang namanya restitusi dan rehabilitasi,” tegasnya.

Erasmus menambahkan keempat hal tersebut sesungguhnya telah diusulkan melalui naskah akademik dan draft yang diusulkan AMAN kala itu.

AMAN pun telah menemui sejumlah fraksi untuk menyatakan posisi terkait draft versi DPR RI.

“Bisa jadi kalau RUU ini nantinya ditetapkan, AMAN justru akan menyatakan sikap menolak karena dianggap tidak menyelesaikan masalah,” tandas tokoh muda asal Manggarai ini.

Penulis: Are De Peskim

Editor: Irvan K

Sikka
Previous ArticlePMKRI Kupang Galang Gerakan Seribu untuk Korban Gempa di NTB
Next Article Jembatan Aesesa Ditutup Warga, Lalu Lintas Dialihkan

Related Posts

Perkuat Kedamaian dalam Bingkai Toleransi, Benny Harman Buka Puasa Bersama Umat Muslim di Labuan Bajo

27 Februari 2026

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Gubernur NTT Minta Penyaluran KUR Tepat Sasaran untuk Masyarakat Miskin

19 Februari 2026
Terkini

Hujan Lebat Picu Jalan Nasional Ruteng–Reo Retak dan Nyaris Putus

8 Maret 2026

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.