Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»INFOGRAFIS»Infografis: Di Balik Motif dan Mitos Tenun Ikat Lio
INFOGRAFIS

Infografis: Di Balik Motif dan Mitos Tenun Ikat Lio

By Redaksi12 Oktober 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Seorang tokoh budaya Ndona, Jailani Aksa, yang mengetahui betul berbagai makna motif Lio menceritakan bahwa motif tenun ikat Lio sebenarnya menceritakan segala bentuk kehidupan masyarakat pada zaman dulu.

Diturunkan melalui cerita lisan secara turun-temurun, berbagai jenis motif Lio adalah terjemahan latar belakang kehidupan sosial dari waktu ke waktu hingga saat ini. Masyarakat Ndona memaknai itu sebagai bukti warisan tradisi kehidupan leluhur.

Beragam motif tenun ikat memiliki makna dan kekhasan masing-masing. Seperti jenis motif nggaja dan rajo. Dua jenis motif ini menceritakan leluhur dari India dan Malaka.

Motif nggaja berbentuk hewan gajah itu mendeskripsikan tentang kehidupan para dewa India Malaka yang datang ke Ende. Entah ada atau tidaknya hewan gajah di Ende, tetapi pada umumnya para pemeluk agama Hindu yang sebagian dianut bangsa India menjadikan gajah sebagai simbolisasi Dewa Ganesha, dewa pelindung ilmu pengetahuan.

Motif nggaja biasa dipakai untuk melayat kematian dan untuk memenuhi undangan perkawinan. Saat melayat kain harus dipakai terbalik. Kepala gajah harus menghadap ke bawah.

Mengapa? Sampai saat ini masyarakat Ndona mengakui gajah merupakan kendaraan atau alat transportasi. Roh jahat akan ikut menebeng dan sangat gampang merasuk saat suasana berkabung. Begitu pula dengan jenis motif jara atau kuda.

Bagi pengantin, jenis motif nggaja juga tidak diperkenankan untuk dikenakan. Masyarakat setempat mempercayai jika dikenakan maka roh jahat akan mengikuti pengantin selama hidupnya.

Motif ini hanya dikenakan oleh para undangan atau orang lain selain pengantin. Meski demikian, tenun motif nggaja ini dapat dipakai dalam keseharian.

Sementara motif rajo, menceritakan tentang sebuah kapal “Rajo” milik leluhur dari India Malaka. Mereka (leluhur) dari India Malaka menuju Ende menggunakan kapal “Rajo”.

Dulu kapal Rajo ini terdampar di Ndungga yang sekarang sudah dijadikan “Watu Rajo” atau batu Rajo. Batu itu berbentuk seperti kapa dan sekarang masyarakat sulit untuk melihatnya.

Rajo adalah perahu dan didalam Rajo terdapat wea atau emas dan riti atau anting emas yang biasa dikenakan oleh ibu-ibu etnis Lio. Sementara wea dikenakan oleh lelaki tua (mosalaki) yang digantungkan pada leher.

Di dalam motif rajo terdapat lukisan wea atau emas dan riti atau anting. Motif ini dikenakan dalam waktu kapan saja, karena kain ini jenis motif hias.

Kaitan dengan kapal Rajo, dahulu masyarakat India Malaka membawanya dengan seekor ular kobra ke Ende dan beberapa perhiasan lainnya. Ular itu kemudian dijadikan selendang dengan jenis motif sinde dan jenis motif semba.

Motif sinde mengambarkan seekor ular kobra dan motif semba itu untuk merangkul dimana telah dituangkan dalam tarian gawi, semua orang bergandengan tangan membentuk lingkaran untuk menari.

Cara memakai sinde khusus laik-laki, seluruh badan ditutup dengan sinde dan semba. Dulu para mosalaki pada saat upacara adat tidak mengenakan baju, mereka hanya mengenakan sinde dan semba untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Masih banyak aneka motif Lio yang melukiskan tentang kehidupan masa lampau. Misalnya motif mboko wea atau buah emas, yang menggambarkan tentang suasana saat meminang seorang gadis.

Dahulu leluhur sering meminang anak gadis dengan biji emas. Tradisi itu kemudian dituangkan dalam motif mboko wea. Saat ini tradisi itu sudah punah, masyarakat hanya mengenakan kain motif pada acara antar belis (emas kawin) saat pernikahan.

Sementara motif rote rego dan motif rote koba, menceritakan tentang tumbuh-tumbuhan di mana sebagai ladang kehidupan masyarakat. Nenek moyang kemudian melukiskan ini ke dalam motif kain. Motif ini bisa dipakai dalam suasana apa pun.

Motif mata kerara atau buah sukun. Motif asli dari Ende yang menceritakan tentang pohon sukun. Pohon yang penuh dengan inspirasi dan juga sebagai tempat berteduh masyarakat saat kelelahan.

Sekarang tumbuhan ini sudah dikenal dengan nama pohon Pancasila, karena Proklamator RI Bung Karno terilhami daun pohon sukun yang berjari lima saat merumuskan Dasar Negara Pancasila ketika masa pengasingan di Ende pada 1934-1938.

Ada juga beberapa jenis motif yang dinamakan dari nama tokoh-tokoh sejarah misalnya motif pea, motif soke, motif lawo mangga. Jenis motif ini diambil dari nama orang, tidak diketahui secara pasti siapa orangnya.

“Saya tidak tahu diambil dari nama siapa. Ini motif nama orang,”kata Jailani Aksa**(Ian/VoN)

Infografis: Tim VoxNtt.com

Tenun NTT
Previous ArticleWalikota Mau Apa?
Next Article Bercinta dengan Tenun Ikat, Cara Perempuan Mbay Merawat Tradisi

Related Posts

Enam Proyek Jalan APBD 2025 di Manggarai Berstatus KDP, DPRD Minta Kontraktor Ditindak Tegas

15 Februari 2026

WALHI NTT Soroti Tambang Emas Ilegal di Sebayur Besar, Kritik Keras Lemahnya Tata Kelola TN Komodo

6 Desember 2025

Ayah Terjebak “Penipuan” Tabungan BNI Life, Anak Batal Kuliah

19 November 2025
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.