Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Pengrajin: Pantang Kentut, Ribut dan Tawa Saat Tanah Liat Digali
Seni dan Budaya

Pengrajin: Pantang Kentut, Ribut dan Tawa Saat Tanah Liat Digali

By Redaksi16 Februari 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Lokasi penggalian tanah liat di Kampung Waesoke, Desa Bamo, Kecamatan Kota, Kabupaten Manggarai Timur (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT- Kentut, tertawa dan ribut merupakan hal paling pantang saat proses penggalian tanah liat yang berada di Kampung Wae Soke, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT.

Tanah liat yang digali bisa dirancang menjadi periuk dan kuali.

Dari pengakuan para pengrajin tanah liat di Desa Bamo dan kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, ketiga pantangan itu yang harus diperhatikan saat proses penggalian.

“Itu yang harus kami hati-hati saat gali, maepesu,keane tawa (jangan kentut, ribut dan tertawa),” ungkap Yustina Ojing saat diwawancara VoxNtt.com di kediamannya di Kampung Baga, Desa Bamo, , Jumat (15/2/2019).

Dikatakannya, pantangan itu merupakan tradisi yang sudah diwarisi sejak dahulu kala.

Kata dia, itu bukanlah mitos lantaran konsekuensinya sudah ia alami.

“Itu kepercayaan sejak dulu, saya pernah mengalami itu, kalau kita langgar maka saat proses olahnya nanti, olahan yang kita buat bisa retak bahkan pecah,”aku Ene Ojing, demikian Yustiana Ojing akrab disapa.

Secara terpisah, Maria Inggo (63), pengrajin asal Kelurahan Tanah Rata mengaku pantangan saat proses penggalian tanah liat merupakan pesan leluhur sejak dahulu kala.

“Itu riwayat dan pesan nenek moyang kami, memang saya belum pernah melanggar pantangan itu,” ungkapnya.

Kendati belum pernah mengalami, ia yakin bahwa itu bukanlah sebuah cerita dongeng.

“Saya percaya itu, makanya selalu saya taati,” imbuhnya.

Maria mengaku, olahan tanah liat yang ia hasilkan pernah retak bahkan pecah saat proses pengeringan dan pembakaran.

Namun, menurutnya, itu bukan karena ia melanggar pantangan itu, melainkan dipengaruhi oleh faktor lain.

“Tetapi kalau pecah karena tanahnya, bakar pada tempat yang masih basah dan kurangnya cahaya matahari,” ujarnya.

“Tidak hanya kentut, tawa dan ribut tetapi galinya harus pake kayu tidak peralatan yang dari besi,” sambung Maria.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur
Previous ArticlePolitisi PKB: Pemberhentian THL di Nagekeo Kebijakan Ngawur
Next Article Cerpen: Penculik Intan

Related Posts

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Jalan Terbelah akibat Tanah Bergerak di Rana Poja Manggarai Timur, Warga Minta Pemerintah Atasi

2 Maret 2026

Viral Warga Meninggal saat Rujukan, Dinas PUPR Matim Akui Akses Jalan Rusak ke Puskesmas Belum Tertangani

27 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.