Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Tersisa Empat Ekor Elang Flores di Wolojita Ende
NTT NEWS

Tersisa Empat Ekor Elang Flores di Wolojita Ende

By Redaksi21 Maret 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kelompok Jata Dara Wolojita ditetapkan sebagai kelompok masyarakat peduli Elang Flores di Kabupaten Ende (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Kelompok Jata Bara di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, NTT mencatat populasi Elang Flores di kawasan hutan adat Otoseso, Wolojita.

Populasi itu diamati kelompok ini sepanjang tahun 2018 hingga tahun 2019. Di kawasan hutan adat tersebut, tersisa hanya empat ekor (dua pasang) Elang Flores.

Sekretaris Kelompok Jata Bara, Yolus Dhalu menyebutkan, satu ekor elang betina saat ini sedang dirawat oleh kelompok di Resor Wolojita akibat patah tulang.

Cedera itu diduga terjadi saat perebutan makanan. Warga menemukan elang itu di hutan Otoseso kemudian dibawa ke Resor untuk dilakukan perawatan.

“Bukan karena kejahatan manusia. Tapi kita duga karena masalah diantara mereka (elang). Jadi, saat ini yang masih dihutan tiga ekor dan kita sedang melakukan perawatan satu ekor yang sedang sakit,” ungkap Yolus usai Workshop di Pesanggrahan Belanda Danau Kelimutu, Kamis (21/03/2019).

Ia menjelaskan, Elang Flores berbeda dengan jenis elang-elang lainnya. Ada keunikan yang terdapat pada elang tersebut.

Keunikan itu, jelas Yolus, pada warna bulu. Misalnya, tubuh elang pada bagian perut dan bagian kepala berwarna putih.

Kemudian warna cokelat kehitaman pada tubuh bagian atas hingga bagian ekor.

“Kalau masih kecil warna bulu bagian atas berwarna hitam. Kalau sudah besar warna sudah berubah menjadi cokelat kehitaman,” katanya.

“Elang jantan semua berwarna putih. Tapi ada sedikit hitam bagian kepala,” ucap Yolus.

Ia menjelaskan, pengujung dapat melihat Elang Flores sebelum jam 10 pagi di sarangnya kawasan hutan adat Otoseso. Itu dapat dilakukan dengan seremonial adat sebelum berkunjung ke kawasan itu.

Yolus mengatakan, seremonial adat itu dilakukan agar seluruh rangkaian pengunjung di lokasi dapat dilaksanakan secara lancar.

Selain itu, karena kawasan hutan tersebut merupakan kawasan adat selayaknya menjadi tradisi adat Lio pada umumnya.

“Kalau seremonial adat itu wajib. Karena sesuai tradisi kita,” ucap Yolus.

Terancam Punah

Data lain yang diperoleh VoxNtt.com dari berbagai situs menerangkan, Elang Flores (Nisaetus Floris) merupakan salah satu raptor (burung pemangsa) yang hanya dapat ditemukan di Pulau Flores, Sumbawa, Lombok, Satonda, Paloe, Komodo dan Pulau Rinca.

Populasi raptor endemik Flores ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 250 ekor individu dewasa. Ini berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) tahun 2005.

Kelompok ini juga bertugas untuk melestarikan Elang Flores dan burung jenis lainnya di Kawasan Danau Kelimutu (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Kecenderungan populasi Elang Flores yang terus menurun membuat IUCN menetapkannya sebagai jenis kritis (Critically Endangered/CR).

Elang Flores semula dikelompokkan sebagai anak jenis (subspecies) dari Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dengan nama ilmiah Spizaetus cirrhatus floris. Elang Flores ini ditetapkan sebagai spesies tersendiri pada tahun 2005.

Adapun ciri-ciri Elang Flores yang memiliki daya unik. Pada umumnya, Elang Flores berbulu putih dan mempunyai garis-garis berwarna coklat pada bagian mahkota.

Baca Juga: Elang Flores, Burung Langka di Dunia yang Terancam Punah

Tubuh berwarna coklat kehitam-hitaman. Sedangkan dada dan perut ditumbuhi bulu berwarna putih dan corak tipis berwarna coklat kemerahan.

Kehidupan Elang Flores mendiami hutan-hutan dataran rendah dan hutan submontana sampai ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

Elang Flores Ende
Previous ArticleSaat Ansy Lema dan Pius Rengka Merajut Mimpi Generasi Milenial
Next Article Tahun 2019, Tiga Kasus Laka Lantas di Matim yang Libatkan Pelajar

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.