Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi-Puisi Chan Setu*
Sastra

Puisi-Puisi Chan Setu*

By Redaksi26 Mei 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-puisi Chan Setu

IBADAH

Lucia, daun-daun minggu telah bangun dan embun pun jatuh lagi.

Mana kamejaku, kau pun bertanya di mana bajuku? Sekali lagi aku bertanya mana jeansku, kau pun bertanya lagi di mana jelanaku?

Lemari kita kosong, hanger bertebaran hambar.

Kini aroma sabun sedang menelanjangi pagi, di sana lonceng terus mengalun.

Di mana lagi doa kita?

Sudah telanjang pagi kita, lalu mau ke mana lagi kita mencari kameja, baju, jeans, dan jelana?

Pagi benar-benar telah habis menangis, meski aroma sabunnya sedang bersetebuh mesra.

Sedang di sana ibadah sudah selesai.

Rumah, 2019

SEPASANG SANDAL

Mau mencuri?

Aku hanya sepasang sandal dan hanya itu harta yang kumiliki.

Curilah sepasang sandalku!

Jangan kau mencuri tumitnya. Aku sedang menjaga surga dari kerikil-kerikil dekilmu

Ambilah sepasang sandalku..!

Selesaikan semua urusan utangmu, jangan lupa sampaikan kepada matamu surga kecilmu sedang aku jaga dari air matamu.

Pergilh mencuri lagi, sandal yang lain.

Sebisamu kembali, bawah pulang hartamu dengan doa “Bunda”

Kapela Agung, 2019

DARI PENJARA DEKIL AKU MENCARI

Di dalam sana, aku mencuri-curi tobat. Menobatkan kesunyian dengan perih dan jerit.

Aku sendiri pelaku dan pelakon, menyeret skenarioku ke dalam liang sutradara sehabis ceritanya meng-ending pada sepih.

Bagaimana doanya, di mana pula doanya? Aku mencari kamus doa sebisa mungkin menemukan  tobat, aku mencari pengampunan sebisa mungkin menemukan kasih sayang.

Sekali lagi aku mencari doa, sambil mengairi mata dan terakhir lesuh mencari si penobat dan pengampun, “dimanakah Tuhanku..???

Doa Rosario, 2019

MARIA

Sejak sembilan bulan yang terhitung, lari-lari berkeliaran,

Menghilang-kembali, datang-pergi, malam-dingin, luka kata-kata dan sikap.

Bulan dan matahari, sampai akhirnya air mata tetatih latih, merantai rintih, bukan sekadar perihal mengandung-melahirkan, membesar-mendidik. Bukan pula hanya sekadar ibu dan bunda. Hanya saja doa yang terpilih dan sepasang sayap datang meminta dalam roh bukan memaksa sebab dipilin oleh pilih.

Maria, Bunda ‘Elousa’

Kapela Agung, 2019

*Chan Setu adalah Mahasiswa semester II di STFK Ledalero Maumere. Saat ini menetap di wisma Mikael Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Salah satu anggota Altheia dan ASAL Ledalero.

Chan Setu
Previous ArticleKadis PK Matim: Guru yang Tidak Dapat Insentif Pendidik Pemerintah Bakal Perhatikan
Next Article Menrisetdikti Resmikan UKI Santu Paulus Ruteng

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.