Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»(Puisi) Bapa Kami yang Ada dalam Kepala
Sastra

(Puisi) Bapa Kami yang Ada dalam Kepala

By Redaksi4 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: IDnews)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-Puisi Paul Ama Tukan

Hostia

Rasanya tidak jenuh

Ketika ranjang malam basah menyerah dengan teduh

Menjahit tubuh yang lelap di atasnya

“Aduh, tolonglah aku Tuhan”

 Seketika itu ia menari dengan lincah

Kala merpati menubruk lekas lambungnya.

Larantuka, 2019

Headline

Pergilah kekasih 

Dan jangan kau ganggu kancing bajuku

Sebab berita-beritaku mudah telanjang

Dan penaku terlanjur menulis;

Di surat kabar kota

Kota Sau, 2019

Bapa Kami yang Ada dalam Kepala

Dimuliakanlah kata dan masuklah ke dalam kepala

Engkau akan menjadi siapa yang selalu bertanya bagaimana

Mencari tanya kala harimu masih kuncup

mengubur jarak dengan damba paling purba

Dari pintu kepala ke dasar hati.

Kota Sau, 2019

Album 

Di bening matamu

Aku bersolek dengan badan telanjang

Mengukur setiap langkah yang rapuh pada simpang doa

Aku ini pandai berselingkuh pada malam hari

Tetapi bersimpuh pada pucuk pagi

Memanggil aduh-ku

Mencabut canduku; 

Kala dulu sekali.

Kota Sau, 2019

Mengatakan Begini

Pada kopi yang mengepul ini

Akan kuselam ke dasar dadamu

Mencatat setiap luka yang terlanjur luka

Kemudian menggores pada dinding nadimu

Agar matamu tahu

Ke mana arah bibirmu.

Nenuk, 2019

Buku

Dan ketika tiada yang memaksa

Segalanya rimbun dalam kepala

Nenuk, 2019

*Paul Ama Tukan, berasal dari Ritaebang, pulau Solor. Alumni Seminari BSB Maumere. Aktif pada kelompok Sastra Kotak Sampah, Novisiat SVD Nenuk. 

Paul Ama Tukan
Previous ArticleKisah Karolus Sarum: Si Lumpuh yang Sembuh usai Pulang dari Kuburan Sang Nenek
Next Article Terkait PPN 10 Persen, Hery Nabit: Kami Tidak Lagi Membeli Hasil Bumi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.