Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Hanya 2 Bulan, Sebanyak 440 Ekor Babi di TTU Mati
KESEHATAN

Hanya 2 Bulan, Sebanyak 440 Ekor Babi di TTU Mati

By Redaksi27 Februari 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi Ternak Babi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT-Hanya dalam 2 bulan terakhir terhitung Januari hingga Februari 2020 tercatat 440 ekor babi di kabupaten TTU mati.

Kematian 440 ekor babi tersebut tersebar di 6 kecamatan yakni kecamatan Biboki Anleu, Biboki Moenleu, Insana Utara, Bikomi Utara, Bikomi Nilulat dan kecamatan Kota Kefamenanu.

“Saat ini sudah sebanyak 440 ekor ternak babi yang mati, dengan jumlah terbanyak di kecamatan Biboki Anleu” ujar drh.Stefanus Tenis,  kepala bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat Veteriner pada dinas Peternakan kabupaten TTU di ruang kerjanya, Rabu (26/02/2020).

Tenis menuturkan, untuk memastikan penyebab matinya babi-babi tersebut, pihaknya telah mengirimkan sampel ke beberapa  Balai Besar Veteriner.

Selain itu,Tenis mengaku pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Propinsi guna mendapatkan bantuan obat-obatan dan disinfektan.

“Kita sudah kirim sampel ke beberapa laboratorium untuk memastikan jenis virus yang menyebabkan banyak ternak babi di TTU yang mati mendadak” ujarnya.

Tenis menuturkan, virus yang mengakibatkan banyak babi mati mendadak ini diduga kuat menyebar dari negara Timor Leste.

Sehingga pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh camat dan kepala desa serta pihak karantina di perbatasan untuk memperketat pengawasan masuk.

Selain itu, lanjut Tenis, dinas Peternakan kabupaten TTU juga telah melakukan inspeksi mendadak ke pasar  guna memastikan daging babi yang dijual layak atau tidak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

“Bila ada ternak yang mati segera melapor ke petugas dan babi yang mati mendadak itu tidak boleh dikonsumsi tapi harus dikubur,” tegasnya.

Penulis: Eman Tabean

Editor: Irvan K

Babi NTT TTU Virus ASF
Previous ArticlePAUD Alasdiin Malaka Diduga Manipulasi Jumlah Peserta Didik di Dapodik Online
Next Article Gubernur Viktor ke Kapolres Belu: Kalau Judi Tidak Beres, Dia Terbang

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.