Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Patrisia dan Andreas, Ibu RT dan Pelajar yang Menolak Karantina di Rumah
Feature

Kisah Patrisia dan Andreas, Ibu RT dan Pelajar yang Menolak Karantina di Rumah

By Redaksi26 April 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Patrisia Darisma (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Pada Jumat, 24 April 2020 lalu, eks penumpang KM Lambelu yang dikarantina di Sikka Covention Center (SCC) dan Rujab Bupati Sikka akhirnya bisa pulang ke kampung.

Mereka diharuskan menjalani karantina di rumah masing-masing atau di tempat karantina yang disediakan pemerintah desa.

Ada yang bahagia, ada pula yang sedih karena belum bisa dekat dengan keluarga.

Meski demikian, mereka harus tetap menjalankan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Beberapa lagi masih tertahan di lokasi karantina terpusat menunggu kepulangan.

Patrisia Darisma dan Melkianus Andreas adalah pengecualian. Keduanya menolak menjalani karantina di rumah masing-masing.

Patrisia, seorang ibu rumah tangga asal Nele Urung, Kecamatan Bele. Sementara Melkianus Andreas adalah pelajar SMK Negeri 1 Maumere asal Madawat, Kecamatan Alok.

Patrisia sejak awal memutuskan karantina di SCC. Andreas sudah sampai di rumah, namun meminta kembali ke SCC meski tak ada penolakan dan keluarga atau pun tetangga.

Sayang Suami dan Anak

Patrisia merupakan penumpang KM Lambelu bersama iparnya dari Makassar.

Ia ke Makassar untuk menjemput iparnya yang mengalami stroke ringan.

Sang ipar langsung masuk ruang isolasi segera setelah KM Lambelu diizinkan berlabuh.

Saat ini ipar Patrisia sudah dipulangkan ke rumah karena dinyatakan negatif berdasarkan hasil tes Swab.

Patrisia seharusnya pulang dan melanjutkan karantina di rumah.

Akan tetapi, Ia lebih sayang kedua anak dan suaminya.

“Biar saya lanjut karantina di sini saja sampai selesai betul baru pulang. Saya tidak mau bikin beban anak-anak dan suami,” terangnya kepada VoxNtt.com di pelataran SCC, Jumat (24/04/2020).

Patrisia takut nantinya tidak aman bagi keluarga.

Selain belum yakin akan kesehatannya, ia tak ingin kedua anak dan suami harus berhadapan dengan penolakan warga.

“Saya belum tahu apakah ditolak atau tidak tetapi saya rasa lebih aman kalau saya di sini,” akunya.

Sang suami, Yosef Hanafi membenarkan hal itu.

Kedua anaknya yang sudah SMP menanyakan sang ibu.

Dua anak mereka sudah duduk di bangku SMP. Mereka akhirnya menerima keputusan sang ibu.

“Dia mau di sini dulu. Jadi kami mengerti. Di rumah juga ada mertua yang sudah tua,” ujarnya.

Informasi yang diperoleh, Camat Nele sempat datang ke lokasi. Sementara Kades Nele Urun tidak kelihatan sama sekali.

Rumah Tidak Layak

Lain lagi dengan Melkianus Andreas. Ia minta diantar pulang oleh Lurah Madawat, Emanuel Charles Idung ke lokasi karantina.

Lurah Madawat, Emanuel Charles Idung dan Melkianus Andreas (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)

Padahal, Lurah Charles sudah mengantarkannya ke rumah bahkan memastikan tidak ada penolakan warga RT 4/RW 5 Madawat.

“Saya sendiri yang minta pulang. Saya kasian nenek,” ungkap Andreas kepada VoxNtt.com di pelataran SCC.

Andreas adalah pelajar SMK Negeri 1 Maumere yang pulang dari Makassar menggunakan KM Lambelu. Ia baru menyelesaikan praktik di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu.

Andreas dan seorang temannya asal Kelurahan Madawat telah dijemput Lurah Charles dan Camat Alok, Edmond Bura.

Menurut Lurah Charles, warga sekitar telah diberitahu perihal kepulangan mereka.

“Saya sudah turun sampaikan dan beri sedikit edukasi. Saya sudah siapkan masker juga untuk keluarga dan warga,” terang Charles di SCC.

Menurut penjelasan Lurah Charles, Andreas merasa rumahnya tak layak jadi lokasi karantina. Pasalnya, hanya ada dua kamar di rumah dengan 4 penghuni.

Bila Andreas menempati satu kamar, maka 3 yang lainnya termasuk sang nenek harus berbagi 1 kamar.

Belum lagi soal makan dan minum. Andreas tidak ingin merepotkan sang nenek dan kedua saudaranya.

Inilah alasan Andreas akhirnya minta pulang.

Lurah Charles memuji kebesaran jiwa Andreas.

“Dia mengerti penjelasan para dokter dan Satgas. Anak ini luar biasa,” tegas Charles.

Sekarang keduanya menjalani karantina di bekas kantor Bupati bersama sisa penumpang lainnya.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba

KM Lambelu Sikka Virus Corona
Previous ArticleTPDI: Bupati Agas Seolah Jadi Juru Selamat untuk Warganya
Next Article Derita Tenaga Kesehatan di Manggarai Hadapi Wabah Covid-19

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.