Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Antologi Puisi Felixia Ade da Gomez
Sastra

Antologi Puisi Felixia Ade da Gomez

By Redaksi19 Juli 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Tuhan I (dan dua belas dosa)

Di hari minggu

Jam-jam yang kosong

Kami tempuh dua belas dosa

Berhadapan dengan Tuhan

Kami jadi tak berdaya

 

Kupandang pula di depanku

Kelesuan dan kejenuhan yang saling beradu pandang

Wahai, iblis  bernama kebosanan

Ini bukan soal kesepian di tengah dua belas dosa

Sebab masing-masing punya pertanggungjawaban

 

Pergilah!!

Kuseret dosa-dosa itu

Lalu kulindas di bawah salibku

Tuhan II (3 kali sehari menjilat doa)

Pada Tuhan yang memberi pengampunan

Kunikmatilah sebuah istilah bergengsi di era globalisasi penuh polusi

Para  dedaun muda memamer buah dada

Tawaran di jalan-jalan

Setelah mencicil pertemuan yang bergulat kedalaman diri

Aku meredakan Rindu dengan mengerti jarak

Lewat kepasrahan menulis sajak-sajak mentah

Tuhan

3 Kali sehari Aku menjilat lembaran doa

Untuk memuaskan ketelanjangan isi berkas kepala yang kosong

Tuhan III (dan Marahku)

“Aku ” Kata Tuhan dikirim ke tempat penciptaannya

Terperangkap dalam rupa Manusia: apa yang menjadi inti munculnya “Aku”?

 

Tiba pada tempat bernama bumi

Semua tampak terbuka

bisa disentuh dikendalikan sesukamu

Aku:berwujud manusia yang  penuh naif  mengedepankan ego berujung kebinasaan

Perlahan membawa-bawa mekanisme ajaran sesat

Menyediakan infus otak yang karat lalu terjerumus dari kuasa amarah

mencair dan mendidih dalam kepala

 

Tuhan IV (dan secangkir teh hangat)

Tuhan yang manis

Sore tadi kau memberikan segelas teh hangat …

Tak lupa, kau campuri pengampunan dan belas kasihan

Atas nama bumi dan isinya

jadikan aku sang Adam dalam penciptaan yang kedua kalinya

Sebab aku tak akan tergoda makan buah terlarang

lewat Hawa yang kudidik secara ajaran-Mu

 

Tuhan …

Aku jatuh ke 3 kalinya di hadapan-Mu

 

Tuhan V (dan Gadis)

Menafsir rindu itu seperti mengukur ketakberhinggaan

Di sana Tuhan mengikat gadisku

Janji meruap pada malam-malam suntuk

Berantaikan jarak, lalu jarak

Lalu kemana sampai?

 

Ia tetap sebuah kerinduan

Di sana Tuhan mengikat gadisku.

*Penulis sering disapa Fellyx . Asal saya Maumere NTT, menamatkan diri di sekolah penerbangan ATC (Halim Perdana Kusuma) Jakarta Timur.  Hobinya membaca buku filsafat dan sastra serta sering menulis puisi bertema bebas. Di samping itu menjadi admin di grup puisi NTT.

Felixia Ade da Gomez Puisi Akhir Pekan
Previous ArticleBalita dan Anak Asal NTT Dipenjara di Malaysia, Salah Satunya Bayi 8 Bulan
Next Article Kepada Fajar-Antologi Puisi Wandro J. Haman

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.