Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Kacang Hijau Nenek Oliva Tanpa Sentuhan RPM
Regional NTT

Kacang Hijau Nenek Oliva Tanpa Sentuhan RPM

By Redaksi27 Juli 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Nenek Oliva Uduk pose di dalam kebun kacang hijau miliknya, Senin (27/07/2020) (Foto: Frido Umrisu Raebesi/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Betun, Vox NTT- Oliva Uduk (70), janda tua asal Dusun Laran, Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka sukses mengembangkan kacang hijau.

Pantauan VoxNtt.com, Senin (27/07/2020), kacang hijau di atas luas lahan 50 are itu tampak hijau dan tumbuh begitu subur.

Meski belum memanen, namun kacang hijau milik Nenek Oliva layak disebut berhasil, sebab tumbuh begitu subur. Hal ini didukung dengan kondisi tanah di lahannya itu yang subur.

Lahan kacang hijau milik Nenek Oliva memang cukup jauh dari rumahnya. Sekitar 2 kilometer dia berjalan kaki.

Ia mengaku, sudah di kebun sebelum matahari terbit. Rutinitas ini dilakukannya setiap hari.

“Saya hanya berjalan kaki ke kebun setiap harinya. Saya makan di kebun, apa adanya. Jagung, ubi dan pisang,” kisah Nenek Oliva.

Ia pun memperkirakan kacang hijau itu akan dipanen sekitar Oktober nanti. Hasil panennya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari.

Dia mengaku harga jual kacang hijau tersebut nanti diperkirakan sebesar Rp 20.000 per kilogramnya.

Keuletan Nenek Oliva dalam bertani sudah menjadi aktivitasnya sejak puluhan tahun lalu.

“Kita sudah tua. Saya tidak berharap akan bantuan dari pemerintah. Saya masih kuat bekerja untuk bisa makan. Pemerintah itu hanya bisanya berjanji, tanpa menepatinya,” ujarnya.

Usaha pengembangan kacang hijau milik Nenek Oliva memang tanpa disentuh dengan program Revolusi Pertanian Malaka (RPM).

Padahal, RPM merupakan program primadona milik Bupati Malaka Stefanus Bria Seran. Bahkan ia tampak bingung saat menyentil program RPM.

“Saya kerja sendiri. Balik tanah sendiri, tanam sendiri, bibit sendiri, rawat sendiri sampai panen pun sendiri, tanpa bantuan dari pemerintah,” kata Nenek Oliva.

Penulis: Frido Umrisu Raebesi
Editor: Ardy Abba

Malaka RPM
Previous ArticleDPRD Minta Dinas PUPR NTT Perhatikan Ruas Jalan Provinsi di Mabar
Next Article Penjual Nasi Babi Bakar Diimbau Tidak Berjualan di Depan Masjid Naikoten

Related Posts

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026

Pemkab Manggarai Barat Evaluasi Seluruh Destinasi Wisata Usai Insiden WNA Austria Terjatuh di Jembatan Gantung

30 Mei 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.