Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Sawahnya Gagal Panen karena Kekeringan, Veronika Sedih
Regional NTT

Sawahnya Gagal Panen karena Kekeringan, Veronika Sedih

By Redaksi12 September 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Veronika Oni saat memberikan keterangan kepada VoxNtt.com di rumah salah satu keluarganya di Meler (Foto: Igen Padur/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Veronika Oni (52), warga Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai mengaku sedih lantaran sawah miliknya dilanda kekeringan.

Veronika mengatakan sawahnya yang terancam gagal panen seluas setengah hektare.

Biasanya, kata dia, sawah setengah hektare itu menghasilkan 25 karung padi setiap kali panen.

Sementara total keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam pekerjaan dari mulai tanam sampai panen sebesar Rp4 juta.

Padi itu digunakan Veronika untuk membiayai kehidupan keluarga, termasuk mengongkos dua orang anaknya yang masih berada di bangku pendidikan.

“Satunya kuliah di Jogja dan satunya lagi SMA di sini,” ungkap Veronika kepada VoxNtt.com saat bertemu di Meler, Jumat (11/09/2020) siang.

Selama ini, Veronika membiayai kehidupan keluarga dengan cara menjual hasil panen padi.

Baca Juga: Dilanda Kekeringan, Ratusan Hektare Sawah di Desa Meler Terancam Gagal Panen

Namun, tahun 2020 ini dia mengaku sedih lantaran sawah miliknya dilanda kekeringan, sehingga menyebabkan gagal panen.

“Sekarang sudah kering dan bulan November sudah tidak bisa panen lagi. Gagalnya itu rasa sedih sekali,” katanya.

Persediaan beras di rumahnya pun sudah habis. Di sisi lain, dia harus mengongkos dua orang anaknya yang kuliah dan SMA.

Kesedian diperparah lagi dengan kepergian suaminya menghadap Sang Khalik pada Juli 2020 lalu. Situasi itu memaksa Veronika untuk bekerja sendiri dalam menafkahi kehidupan keluarganya.

“Kena hari Minggu bulan Juli tanggal 04. Bapak meninggal,” tutur Veronika.

Ia mengaku kepergian suaminya karena capeh bekerja.

Sebelum meninggal selama dua malam berturut-turut suami Veronika rela menghabiskan malam di sawah. Itu dilakukan untuk mengairi sawah mereka.

Kerja ini terpaksa harus dilakukan lantaran di desanya dilanda kekeringan. Air pun berebutan, karena debitnya sedikit.

“Dua malam dia jaga air supaya masuk traktor. Sampai jam 02 malam,” kisah Veronika.

Setelah berhasil mengairi sawah, suami Veronika menderita sakit. Karena sakit Veronika lantas menyuruh suaminya untuk beristirahat di rumah.

“Saya bilang ke dia, Bapa jangan ke kebun lagi karena waktu itu dia mengeluh kesakitan. Dia tidak ada riwayat sakit hanya kecapehan,” lanjutnya lagi.

Kini, Veronika melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan suaminya. Namun naas, ia harus berhadapan dengan situasi pelik karena daerah itu dilanda kemarau panjang.

Situasi ini memaksa Veronika berpikir keras agar anak-anaknya tetap bisa mengakses pendidikan. Dia kemudian beralih profesi sebagai pedagang kue.

“Ho cepisa nana ga nanang jual kue. Cala baeng (Nanti saya akan jual, mudah-mudahan beruntung),” tandas Veronika.

Ia juga mengaku pada tahun sebelumnya, sawah miliknya dan sebagian besar warga di Desa Meler dilanda kekeringan.

Beruntung, tahun 2019 lalu keluarganya berhasil mendapat bantuan beras sebanyak 50 kg dari Pemerintah Kabupaten Manggarai.

Kali ini Veronika kembali berharap agar pemerintah bersedia membantunya. Hal itu agar dia tetap bisa membiayai kehidupan keluarga terutama ongkos pendidikan kedua anaknya.

“Semoga-moga pemerintah melihat saya,” tutup Veronika.

Penulis: Igen Padur
Editor: Ardy Abba

Manggarai
Previous ArticleKemendagri Tegur Keras Tujuh Bakal Calon Kepala Daerah Petahana di NTT
Next Article Cemari Lingkungan, Warga Ropa Keluhkan Limbah Batubara PLTU

Related Posts

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Anggota DPRD Manggarai Desak Inspektorat Periksa Proyek Kantor Desa Legu yang Mangkrak 17 Tahun

11 Juni 2026

Operasi Patuh Turangga 2026 di Manggarai Ditunda, Polisi Perbanyak Edukasi dan Kegiatan Simpatik

10 Juni 2026
Terkini

Sensus Ekonomi 2026: Mengapa Kita di NTT Tidak Boleh Asal Memberi Jawaban?

13 Juni 2026

Muskab PBVSI Sikka Tetapkan Rofinus Luer sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

13 Juni 2026

Hati Tak Bernoda: Istana Kasih dan Bait Allah Penemuan Diri

13 Juni 2026

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.