Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Seperti Tiba Musim Gugur: Antologi Puisi Patrick Poto
Sastra

Seperti Tiba Musim Gugur: Antologi Puisi Patrick Poto

By Redaksi28 Februari 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Seperti Tiba Musim Gugur

Jou, setiap napas detik telah kita rangkai 

Dan yakinlah tak satupun waktu kita tanggalkan disana

Seperti angin berhembus lalu hilang lenyap

Kini sudah kau tahu apa maksud waktu.

 

Bagaikan aksara waktu memberi arti 

Pada sebait syair yang sibuk menyanyi

Di penghujung aksi yang telah mati

Kini kami lalui hanya siap menafsir arti.

 

Jou, saat malam bersanding kembali 

Kau pun ikut melontarkan kata-kata pahit berlapis tangis

Saat semua sibuk menghitung detik di bibir pantai

Dan teringat seketika dibenakku akan suatu petisi yang berbunyi”Tak ada yang abadi”.

                                                                 Nita, 22-02-2021

 

Menghitung Dentuman Waktu

 

Mataku tertuju pada dinding tua yang sebentar lagi rapuh

Kataku berkata-kata pada mulut waktu

Saat angin lagi sibuk menerpa dedaunan di ujung kebunku

Aku tertunduk sambil membaca sepucuk surat

Entah apa yang kutemui disana,

Pun tak kupahami arti dari puisimu.

Aku menatap langit sambil berkaca pada bayangku 

Dan mengira kau hendak berbincang sebentar lagi

Lagi aku pun kembali pada sanubari itu

Dan segera aku berpaling di sekelilingku dan tak kulihat apapun

Dan benarlah pula aku seorang penghitung waktumu.

                                                                 Nita, 25-02-2021

 

Penulis adalah penikmat sastra dan penyuka kopi khas Kampung Dorata.

Patrick Poto
Previous ArticleTuhan Sang Perantau: Antologi Puisi Marno Wuwur
Next Article Senja di Gua Bitauni

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.