Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Sepersekian Detik Sebelum Pukul Tiga
Sastra

Puisi: Sepersekian Detik Sebelum Pukul Tiga

By Redaksi3 April 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Oleh: Akeng Ruing

Sepersekian Detik Sebelum Pukul Tiga

 

“Belum selesai, Ibu. Belum selesai”.

 

Angin menderu jauh

Menebarkan butir bening di kelopak

Menyisakan keping – keping tangis yang menggerak.

“Jangan tangisi diriku, 

Tangislah dirimu dan anakmu!”

 

Sura itu menderu sayup

“Siapakah Ibu dan Ayahku? Mereka yang selalu setia membacakan puisi sebelum tidur.”

Yosef milik malam,

Air mata milik Maria,

Jangan sampai bening jatuh ke pipi.

 

Wangi duka tertiup angin

Ke palung yang merawat cinta

Riwayat masa kecil yang hilang 

Ke dapur bertabur adonan roti 

Ragi yang belum sembat dicampur

Ke tungku api milik Maria yang padam menggigil merindu api

Ke ukiran kayu milik Yosef sang ayah yang menjadikan rindu

7Ke jubah tenun milik Maria sang ibu yang menjadikan teduh

 

Ia ingat kaki masa kecil yang lincah

Bersembunyi di keliling Sinagoga

Ditembusi duri terantuk batu

Mahir berlangkah pulang sebelum senja berlalu

Ke lubuk hatinya yang sederhana 

Tapi bermahkota duri dan rahasia

Ia menunggu kabar dari angin 

Seperti kemarin

Namun tak ada kabar

Selain pekat malam 

Bagaikan di taman Getsemani bermandi darah

 

Malam menutup pintu lagi

Napas malam menguarkan aroma maut

Getir tercampur dalam cawan angur

Di dadanya bergemuruh badai

Sementara hari – hari berjalan pelan

Bagi duka yang berumah di hatinya

Siapa yang harus meminumnya?

 

Sebab mata sabda terkelupas

Oleh cambuk dosa yang mengeras

“Yang hidup dengan pedang, 

Akan mati oleh pedang”.

 

Maumere, 25 Maret 2021

Yoakim Lango Ruing lahir di Lerahinga – Lembata NTT. Aken Ruing adalah nama pena dikenal sebagai seorang yang puitis. Menulis menjadi cita – citanya karena dengan menulis Yoakim Lango Ruing bisa lepas dari penderitaannya.

Aken Ruing
Previous ArticleMasihkah Ada Hati?- Antologi Puisi Yohanes Mau
Next Article Dari Getzemani, Menuju Kubur Kosong

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.