Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Sabtu Kelabu: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang
Sastra

Sabtu Kelabu: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang

By Redaksi15 Mei 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yohanes Boli Jawang OAD, Bandung

 

Sabtu Kelabu

Malam minggu akan kembali 

Adakalanya hati ingin bertanya

Saat senja mulai memucat 

Wahai para petualang malam minggu

Hati masih tetap bertanya

Adakah sabtu yang akan kembali lagi?

Malam ini sudah menjelma 

Wahai insan di ujung malam

Adakah sabtu yang akan berada bersama kita?

#Akhir Pekan

Maaf Kita Berbeda

Aku ingin melupakan sajak indahku

Yang pernah kutuliskan dari kisahmu

Biarlah bait sajaku lenyap oleh waktu

Maaf kita harus meninggalkannya

Kisah yang pernah kutulis dari nada kita

Dan biarlah aku untuk menikmati kesendirian bersama waktu

#Maaf

Biarkan Kepergian

Satu musim telah berlalu

Menggugurkan dedaun

Jalan-jalan waktu sudah dipenuhi

Melukiskan fatamorgana 

Senja terlalu lama berlalu

Dan subuh tak ingin cepat

Akankah jumpa bisa kembali pada kita?

Karena pergi yang tak pernah mau kembali

#SeeU

Kasih?

Kasih 

Kita sudah biasa mengucapkannya

Kasih kata yang selalu hadir diantara kita dan hidup kita

Kasih 

Sebenarnya hidup itu adalah kasih

Seperti halnya embun pagi yang mendahuli subu

Menanti di ujung pagi

Kita senantiasi diberi kehangatan dalam balutan dingin pagi

Seiring waktu

Kadang keangkuhan yang menegngelamkan kasih

Kasih 

Tidak berbicara tentang kuantitas laku

Tapi kasih selalu melihat eksistensi 

Lalu bagaimana dengan aku?

Sudahkan aku menyatakankan kasih?

Apakah kasih bagiku?

Kasih adalah keutuhan

Dan kasih ingin lebih banyak lagi

#Minggu9/05/2021

Pamitku Pada Senja

Mungkin sore lebih sopan

Untuk menutup hari ini

Dengan berpamit pada senja

Di ujung mentari sudah bersinar perak

Senja sudah tiba

Angin pantai mulai menghembus

Bersama hempasan ombak

Kuukir kembali kisah hari ini

Masih ada malam yang telah menanti 

Bersamanya memasuki mimpi-mimpimu

Biar subuh lebih cepat berjumpa pagi

#PemulungKata

#SemuadipenghujungMalam

Lautan pun akan Berkata

Selepas hari ini, senja mulai berpaling

Angin laut mulai berhembus lembut

Bui-bui ombak seakan menari-nari 

Menyapu bebatuan, menghempas ke bibir pantai

Dari sini aku memandangmu

Luasnya laut membentang, hingga mengujung pada langit-langit

Riuhmu seakan berpamit hari

Dan kuandaikan katamu

Untuk diammu yang menyimpan kisah 

Mungkin jika bisa, kamu kabari pada sore

Hingga senja akan membawamu pada peraduan

Masih dengan kisah yang sama

Dalam gemuhnya

Lautan pun ingin berkata

#PemulungKata

Seandainya,

Sudah berapa jauh langkah

Aku tidak lagi pandai berhitung

Waktu tidak akan pernah mendahului

Mungkin waktu punya cara menggandakan cerita

Seandainya,

Tapi tak pernah ada jedah untuk kembali waktu

Seandainya,

Masih ingatkah tentang saat itu?

Di kala harus memutuskannya

Seandainya,

Hidup selalu ada banyak hal

Dan seandainya,

#PemulungKata

Catatan Hari ini

Wahai para pejuang

Pagi sudah kembali 

Tidak ada yang berbeda untuk hari ini

Mentari sudah menyapa lembut

Sama halnya dengan kemarin dan yang sudah berlalu

Adakalanya hanya cerita yang berbeda

Namun semua selalu di awali dengan melafalkan doa penuh khusuk

Mentari semakin menunjukan kecongkakan

Tapi awan masih bercahaya kelabu

Untuk hari ini

Hujan masih menanti di pintu-pintu langit

Hari terus mengayunkan langkah

Disini masih dengan kisah yang sama

#PemulungKata

##### 

 

Khilaf masih menjadi warna

Bahkan perpecahan kerap terjadi 

Mungkin lupa 

Menghadirkan nafsu

Hitung-berhitung 

Tidak ada yang ingin kerusakan

Semua ingin kebaikan

Tidak ada yang bisa dibeli

Mari beramal dari akal hingga aksi

#PemulungKATA

 

Yohanes Boli Jawang
Previous ArticleSiapa Engkau?: Antologi Puisi Jefri Bere
Next Article Proyek Air Minum Bersih Senilai 2,7 Miliar di Matim Mubazir

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.