Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Pondok Tuhan Telah Lapuk: Antologi Puisi Yohanes Mau
Sastra

Pondok Tuhan Telah Lapuk: Antologi Puisi Yohanes Mau

By Redaksi16 Mei 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Pondok Tuhan Telah Lapuk

Gajah dan binatang hutan lainnya
tidak berkeliaran seperti kemarin
jalanan di tengah semak belukar
tampak sepi
ke sana musafir tunggal
membawa seikat hati
berbalut rindu akan kekasih hati
temu yang kandas di ujung corona.

Setangkai tetes cinta
dan air mata basahi pipi
menyaksikan pondok Tuhan telah roboh
namun aku yakin
Dia masih ada di sana
Dia tidak lapuk bersama waktu
Dia adalah kasih yang setia menanti
sabar dalam segala zaman
dan tak lekang
oleh musim-musimnya.

Sebelum senja menjemput
musafir pulang dengan luka
di dalam dada
di tengah jalan piluh menyayat
pedih tak tertahankan
aku pun bertanya, “di manakah gajah
dan binatang lainnya?”

Ilizwi-Biblical Centre-Zimbabwe, 11/05/2021.

Mawar di Tepian Jalan

Bersama angin dan matahari
Muzafir jelajahi hati
Seperti kemarin
setia temani hari ini
agar matahari tak terbenam
aku setia memeluknya
hingga hanyut dalam rangkulan
hangat cinta
Mawar mekar di tepian jalan
Burung-burung berkicau
kabarkan musim petik bunga telah usai
Namun tak jamah dan isap madu
pada wangian mawar
di tepian belukar
murni mawar pun sirna
bersama matahari
di batas hari.

Marula, 15/05/2021.

Izinkan Aku

Kalau senja sudah pamit seperti kemarin maka izinkan aku larut di teduh matamu
tapi jangan lupa ingatkan aku untuk pulang kepada esok yang sedang setia menunggu pulangku

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 16/05/2021.

Retak Hati yang Gundah

Kalau saja aku tiba di ujung senja itu
Izinkanlah aku menetap sejenak
di teduh matamu
Rasakan sejuk pada setiap kedipan
namun jangan biarkan hanyut
Karena aku masih di jalan
cukuplah aku baca setiap tetes cinta
yang jatuh di dalam lubuk hati
Kemanakah ia mengalir pergi?
Agar aku menjadi saluran menuju
Kepada retak hati yang gundah.

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 10/05/2021.

Yohanes Mau adalah salah satu penulis buku Antologi Puisi, “Seruling Sunyi untuk Mama Bumi.” Kini ia sedang bertualang di Zimbabwe-Afrika

Yohanes Mau
Previous ArticleChina dan Tiga Negara Terlibat Bentrok dalam Pertemuan PBB terkait Muslim Uighur
Next Article Aktivis Berhadapan dengan Penguasa Politik

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.