Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Di Ende Harga Kemiri Menurun Drastis
Ekbis

Di Ende Harga Kemiri Menurun Drastis

By Redaksi18 Juni 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Biji kemiri
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT- Harga kemiri pada sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Ende, Provinsi NTT menurun drastis dari Rp25 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram.

Siprianus, warga Desa Tinabani, Kecamatan Ende kepada wartawan, Jumat (18/06/2021), mengaku setiap tahun harga komoditi seperti kemiri dan kopi sering merosot.

Padahal, kata dia, jika harga kemiri stabil tentu saja sangat menguntungkan para petani. Harga kemiri yang kerap menurun tidak berbanding lurus dengan usaha produksi petani.

Misalnya, sebut Siprianus, pengolahan kemiri sangat susah dan membutuhkan waktu yang lama.

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya harga kemiri di Ende cenderung naik-turun atau tidak stabil. Para petani tidak mengetahui alasan turunnya harga komoditi pertanian.

Menurut Siprianus, kemiri merupakan salah satu komoditi unggulan di Kecamatan Ende. Hampir setiap Kepala Keluarga (KK) memiliki tanaman tersebut. Warga biasanya menjual kemiri kepada pembeli di Pasar Wolowona.

“Biji kemiri biasanya dijemur lalu dipecahkan dan dagingnya yang diambil untuk dijual,” terang Siprianus.

Ia pun berharap agar pemerintah memperhatikan harga berbagai komoditas pertanian dan perkebunan, termasuk kemiri sebagai salah satu penopang hidup masyarakat.

Untuk diketahui, kemiri dan kopi merupakan salah satu komoditi yang cukup menonjol di Desa Tinabani.

Masyarakat di wilayah itu mampu membiayai pendidikan anak hingga Perguruan Tinggi dari hasil komiditi pertanian seperti kemiri dan kopi.

Turunnya harga kemiri sangat mempengaruhi penghasilan para petani. Para petani sangat berharap agar harga kemiri kembali normal menjadi Rp25 ribu per kilogram.

Kontributor: Nasan Kua
Editor: Ardy Abba

Ende
Previous ArticleKonsumsi Miras Oplosan, Ladies di Cokelat Cafe Meninggal Dunia dalam Kondisi Hamil 6 Bulan
Next Article Resmi Beroperasi, Mobil Pelayanan Keliling Milik Disdukcapil Ende Siap “Jemput Bola”

Related Posts

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Kedatangan Dua Kapal Pesiar Internasional

19 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.