Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Korban Laporkan Jaksa ke Kejagung dan Komisi III DPR RI
HUKUM DAN KEAMANAN

Korban Laporkan Jaksa ke Kejagung dan Komisi III DPR RI

By Redaksi20 Maret 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Direktur PADMA Indonesia, Gabriel Goa
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta, Vox NTT- Ketua Dewan Pembina Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Goa, menyebut praktik mafia hukum masih marak terjadi di Tanah Air.

Gabriel mencontohkan, kasus dugaan mafia hukum yang melibatkan aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, tepatnya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta.

Menurut dia, korban terpaksa menempuh jalur hukum dengan melaporkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena diduga terjadi kriminalisasi hukum dan diskriminalisasi HAM.

“Kami mendapatkan pengaduan dari Devid dan Effendi yang merupakan korban peradilan sesat,” kata Gabriel dalam rilis yang diterima VoxNtt.com, Minggu (20/03/2022).

Gabriel menegaskan, mafia hukum dan peradilan sesat menyebabkan kriminalisasi dan diskriminasi atas korban yang mencari keadilan.

Untuk itu, atas nama korban, Padma Indonesia sudah melaporkan ke berbagai pihak, yakni Kejaksaan Agung, Komisi Kejaksaan, Badan Pengawasan MA, Komisi Yudisial, Ketua MA dan Komisi III DPR RI.

Dikatakan, pihaknya sudah melaporkan secara resmi Jaksa Penuntut Umum Ike Rosmawaty, SH, dari Kejaksaaan Negeri Jakarta Pusat terkait dugaan tindakan kriminalisasi hukum dan diskriminasi HAM.

“Selain itu, karena mengabaikan penerapan keadilan restoratif sebagaimana dimaksud pasal 14 Peraturan Kejaksaan Agung RI No. 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif,” tegas Gabriel.

Gabriel menjelaskan, Devid dan Effendy adalah tersangka sebagaimana dimaksud Laporan Polisi bernomor 269/K/III/2021/Restro JP, tanggal 03 Maret 2021, yang dibuat Fransiskus Tadon Kerans/Amsi (pelapor/korban), dengan sangkaan melanggar pasal 335 KUHP jo pasal 55 ayat (1) KUHP.

Selanjutnya, pelapor telah mencapai kesepakatan saat perkara dalam penyidikan dan mengajukan pencabutan perkara kepada Kepolisian Metro Jakarta Pusat.

Kemudian, pada 13 Juli 2021 berdasarkan Putusan No. 364/Pid.B/2021/PN Jkt.Pst Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan Hakim Ketua Wadji Pramono SH, MA bersama Hakim Anggota Purwanto SH, MA dan Saptono Setiawan SH, MA telah menyatakan bahwa Surat Dakwaan Penuntut Umum dengan nomor registrasi Perk: 116/JKTPS/05/21 tanggal 21 Mei 2021, batal demi hukum dan membebaskan para korban.

Ironisnya, lanjut Gabriel, dakwaan tersebut tidak sesuai dengan tudingan dari Polres Jakarta Pusat bahwa mereka adalah mafia tanah.

Kemudian, terjadi lagi peradilan sesat di PT DKI Jakarta dalam amar putusan 22 Februari 2022 oleh Majelis Hakim yakni Tjokorda Rai Suamba, SH, MH (Ketua Majelis), lalu Binsar Pamopo Pakpahan, SH, MH dan Gunawan Gusmo, SH, M.Hum sebagai Hakim Anggota.

Berdasarkan penetapan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tanggal 13 Januari 2022 Nomor 13/Pid/2022/PT DKI memutuskan perkara berbeda pasal pidananya, yakni dari pasal pidana 335 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana perbuatan tidak menyenangkan menjadi pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Peradilan sesat sepertinya sudah diatur dari tingkat PN hingga PT DKI Jakarta. Miris dan sangat menyedihkan PT DKI yang seharusnya mengungkap kebenaran dan keadilan justru melakukan kesalahan fatal. Inilah namanya mafia hukum dan kriminalisasi,” kata Gabriel.

Senada dengan Gabriel, kuasa hukum Devid dan Effendy yakni Dr. JB Gregorius, SH, MA menjelaskan, pihaknya telah mengajukan permohonan keadilan restoratif kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat tetapi diabaikan.

“Ada yang tidak beres dan ini sangat merugikan para pencari keadilan. Masih banyak bukti-bukti seperti yang disampaikan kawan-kawan dari Padma Indonesia tersebut. Tidak bisa dipungkiri ada peradilan sesat dan menguatkan dugaan mafia hukum,” kata Gregorius.

Penulis: Igen Padur
Editor: Ardy Abba

Nasional Padma PADMA Indonesia
Previous ArticleMendag Tidak Berdaya Lawan Mafia Minyak Goreng, BKH: Mengapa Negara Bertekuk Lutut?
Next Article Permasna Kupang Lantik 120 Anggota Baru, Begini Pesan Pembina

Related Posts

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

LBH GAMKI NTT Buka Layanan Konsultasi Hukum Gratis untuk Masyarakat

3 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.