Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Insani: Antologi Puisi Rifqi Septian Dewantara
Sastra

Insani: Antologi Puisi Rifqi Septian Dewantara

By Redaksi26 Februari 20242 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Insani:

Sebagai insan, bisaku hanya meminta.
Saat laut memilah selera, seluruh tapak yang menginjakku adalah kebahagiaan.
Kini tingginya melebihi awan,
diterbangkannya mereka yang gemar merendahkan.

2023

Isolasi Mandiri

Suam-suam di leherku; mengalir
Dari dingin ke suhu panas
Dari gigil ke lidah kebas
Gigi-gigi bertetakan
Berjegal-jegalan di daguku

Kemarin dulu, saat mengepal kain handuk untuk membasuh pikiran
Aku mengawang; apakah masa depan hanyalah ribuan kali dari nasib ketidakjelasan?
Ingatan itu selalu acak, mendorong mundur pun menarik jatuh

Seluruh tangis dan sepasang tangan yang sedang bekerja saling mengerti dan memahami
Bagaimana cara menjinakkan paru-paru dengan bantuan selang tabung agar menyudahi keluh bisuku menanggalkan kematian
Ah! Tetapi aku ingin memilih pulih, aku enggan mati di ruangan ini!

2023

Sakit

Gigil hanya bising yang meriap kaku, kasur bagai permaisuri yang tumbuh dalam perhatian. maka izinkan aku untuk pulih. pulih dalam keadaan normal bersisa. tanpa dosa, tanpa muslihat

Aku iri dengan mereka yang sehat disana, sebab aku tidak bisa keluar. berkelana sepanjang hari, mengitari jalanan raya, hutan, gunung, pantai, gedung-gedung bertingkat. riang dalam sifat, senang dalam dekapan

Nyatanya, sakit kian menggebu-gebu. terus terang, ini sangat sakit dibanding sakit hati. “sekali lagi aku iri, aku iri dengan mereka-mereka yang sehat!”

2023

Sejerat Kelahiran

Dua puluh
dua membahas kelahiran
nol; berdikari

Perihal dewasa ialah kesempatan,
kematangan,
kenangan yang menyertai masa depan

Peristiwa lain adalah Ki Hadjar Dewantara
sedang, hari ini adalah tentang aku berdiri
berdiri diatas kelahiran
kelahiran, pendidikan dan sajak kebudayaan.

Namun, mengapa saban-saban kelahiran termakan setiap tahun?
mengapa seluruh raga telantar di belantara bisu?
begitu jua jiwa, yang menunda-nunda kematian mahatahu
ya, gamang ini benar-benar menagak kepribadianku.

2023

Tentang Saya

Rifqi Septian Dewantara asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998. Karya-karyanya pernah dimuat beberapa media online dan buku antologi puisi bersama. Kini, bergiat dan berkarya di Halmahera, Maluku Utara. Bisa disapa melalui Facebook: Rifqi Septian Dewantara

Rifqi Septian Dewantara
Previous ArticleHUT ke-21 Manggarai Barat, Kopearad Ajak Pemuda Tetap Jaga Persatuan dan Kesatuan
Next Article Aliansi Desak Ketua Majelis Hakim di PN Kupang Klarifikasi dan Minta Maaf

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.