Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Lewat Festival WAIHUMBA V, Masyarakat Adat Sumba Terhubung Melestarikan Alam
Seni dan Budaya

Lewat Festival WAIHUMBA V, Masyarakat Adat Sumba Terhubung Melestarikan Alam

By Redaksi23 Oktober 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

VoxNtt.com-Sudah lima tahun terakhir ini Wai Humba disepakati sebagai gerakan inspirasi penyatu keempat kabupaten di Pulau Sumba, yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Wai atau wee berarti air, sedangkan Humba adalah Sumba. Wai Humba terinspirasi dari nama-nama tempat di seluruh Sumba yang berawal dengan Wai atau Wee, misalnya Waingapu, Waikabubak, Waibakul, Weetabula.

Pengakuan adanya persamaan entitas  sebagai TAU HUMBA (orang Sumba) mendorong terbentuknya sebuah komunitas yang dinamakan “Komunitas Wai Humba”.

Dalam tour festival yang terima VoxNtt.com, dijelaskan melalui komunitas ini, masyarakat dari empat kabupaten dapat melakukan pertukaran informasi seputar potensi dan masalah yang dihadapi di wilayah masing-masing.

Selain itu, festival ini juga sebagai wadah untuk melawan lupa terhadap tradisi turun temurun orang Humba dalam melestarikan alam.

Spiritualitas Orang Sumba

Adapun orang Humba (Sumba)  memiliki kepercayaan asli Marapu, mereka melakukan kegiatan ritual-ritual adat, seperti; Kalarat Wai (diambil dari bahasa Humba Kambera).

Kalarat Wai merupakan aktivitas religius aliran kepercayaan Marapu dengan melakukan persembahan di sumber mata air, bahkan hingga saat ini masih terus dijalankan oleh masyarakat penganut Marapu di Pulau Sumba.

Selain merupakan ibadah ucapan syukur,kegiatan ini juga sekaligus sebagai ibadah permohonan kepada sang pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Humba.

Sampai saat ini, masyarakat adat di kawasan tempat persembayangan masih mengkramatkan/melarang aktivitas pengrusakan di tempat mata air.

Air dipercaya bersumber dari keberadaan hutan yang terbentang luas membungkus gunung-gunung di Sumba. Oleh karenanya, keempat kabupaten yang menyatu dalam satu wadah yang bernama Wai Humba, memiliki misi yang sama, yakni melindungi gunung-gunung di Humba sebagai penyuplai air bagi makhluk hidup di dalamnya.

Dengan demikian, dicetuslah sebuah kegiatan rutin tahunan yang dinamakan “Festival Wai Humba” yang saat ini akan terselenggara yang ke-5 di Kecamatan Haharu – Kabupaten Sumba Timur. Dari sejarah diyakini bahwa peradaban nenek moyang Humba bermula dari Tanjung Sasar di Kecamatan Haharu.

Festival ini dihadiri oleh warga empat gunung di Sumba, yakni Wanggameti di Kabupaten Sumba Timur, Tana Daru di  Sumba Tengah, Poronombu di Sumba Barat dan Yawilla di Sumba Barat Daya.

Keempat gunung ini, selain berfungsi sebagai penyuplai utama air penghidupan bagi penduduk, keberadaan gunung-gunung ini juga sebagai sumber pangan lokal, tanaman obat-obatan dan kayu, yang dapat mendukung keberlangsungan hidup manusia.

Kampanye Tolak Tambang

Festival ini juga sebagai wujud komitmen untuk menolak ekspansi pertambangan Minerba di Sumba. Masyarakat di wilayah empat gunung menyadari bahwa mereka tidak bisa berjuang sendiri pada masing-masing wilayah untuk menjaga asetnya dari upaya pengrusakan oleh pihak lain, tetapi perlu untuk merapatkan barisan dengan kesamaan kepentingan, satu suara “tolak eksploitasi pertambangan di Tana Humba”.

Tema festival kali ini adalah “Tapanuangu” diambil dari bahasa Humba Kambera, yang berarti ‘Kita Terhubung’. KITA di sini berarti warga yang berasal dari dari empat kabupaten, dari empat gunung, terhubung dalam satu wadah “Wai Humba”.

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam festival adalah pentas seni budaya, pameran pangan dan kerajinan lokal, musyawarah masyarakat empat gunung, kegiatan pengkeramatan sumber daya air (Kalarat Wai) hingga deklarasi persatuan masyarakat Humba.

Selain itu juga ada permainan tradisional lokal, diskusi kampung tentang perlindungan dan penguatan daya dukung alam bagi masyarakat di Sumba serta napak tilas perjalanan nenek moyang di Tanjung Haharu.

Kegiatan ini akan tetap dan terus dilakukan pada setiap tahunnya sebagai wujud cinta terhadap tanah leluhur, bukti persatuan masyarakat Humba untuk menolak eksploitasi tambang di Tana Humba.

Lebih daripada itu adalah sebagai upaya mewariskan nilai-nilai persatuan kepada generasi Humba berikutnya, bahwa masyarakat adat Sumba hanya terpisah secara administratif wilayah pemerintahan, tetapi tetap dalam satu entitas Humba yang terhubung serta berdaulat  secara adat dan budaya. Termasuk berdaulat dan terhubung untuk bahu membahu memastikan tidak ada tempat untuk investasi penghancur alam di Sumba.(UW/VoN)

 

 

Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur
Previous ArticleBI NTT Pentaskan Tari Tradisional di Bandara Komodo
Next Article Bayi Meninggal Usai Dilahirkan, Keluarga: Puskesmas Borong Lalai Jalankan Tugas

Related Posts

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Festival FEAST di Labuan Bajo Tampilkan Olahan Songkol dan Tapa Kolo

5 Mei 2026
Terkini

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.