Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Gagal Panen, Warga Alorawe Konsumsi Ubi Beracun
Feature

Gagal Panen, Warga Alorawe Konsumsi Ubi Beracun

By Redaksi24 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Warga sedang mengolah Ubi beracun (Ondo) untuk dijadikan bahan makanan
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT-Musim kemarau yang memicu kekeringan kini terus meluas di Kabupaten Nagekeo.

Akibatnya,  warga Desa Alorawe Kecamatan Boawae mulai rawan pangan dan gagal panen.

Warga di desa tersebut saat ini terpaksa mengkonsumsi ubi beracun atau warga Mbay menyebutnya Ondo lantaran gagal panen.

“Akibat musim panas yang panjang sehinga kami saat ini sudah kehabisan stok pangan‎. Bapak wartawan lihat sendiri kondisi kami di sini kekeringan seperti sekarang. Kami mau harap apa kalau beras tidak ada. Ya satu-satunya jalan kami masuk hutan untuk cari ubi-ubian,” kata Warga Desa Alorawe Dusun 02, Melhior saat ditemui wartawan di Alorawe, baru-baru ini.

“Di mana sebagiannya kami makan saat ini dan yang lain untuk disimpan sebagai persediaan kami untuk musim hujan. Bapak juga sudah lihat kondisi kali yang ada dan untung saja belum hujan. Kalau sudah hujan akses putus total. Kami hanya di rumah mau jalan tidak bisa karena banjir. Terus kalau sudah begitu kami mau makan apa? Jadi satu-satunya ubi ini kami siap untuk musim hujan nanti,” tambah dia.

Melhior mengatakan, ubi Ondo merupakan salah satu ubi hutan yang beracun.

Sebelum mengonsumsinya membutuhkan pengolahan yang baik dan benar agar racunnya bisa hilang.

Agar ubi Ondo bisa dimakan dengan aman, harus diolah dengan penuh kesabaran dan memakan waktu beberapa hari.

“Sebelum kita konsumsi‎ terlebih dahulu harus kuliti dulu, lalu iris berbentuk lempeng. Setelah itu dijemur, jika telah kering harus direndam dan dicuci di air mengalir selama tiga malam. Lalu dijemur lagi hingga benar kering sampai bagian dalamnya. Dan kalau sudah kering baru dikonsumsi,” jelas Melhior.

Menurut dia, mengonsumsi ubi Ondo bukan hal baru, tetapi sudah merupakan budaya masyarakat setempat.

Kepala Desa Alorawe Donatus Baka membenarkan hal itu.

Menurutnya, di Desa Alorawe komoditi unggulan hanya jambu mede (jambu monyet).

Namun lantaran tahun ini mengalami kemarau panjang, jambu mede pun gagal panen. Sumber keuangan untuk membeli beras pun tersendat.

“Ya jalan satu-satunya sebagai cadangan makanan pengganti beras maka warga masuk hutan untuk mencari ubi-ubian,” ujarnya.

Sementara itu hingga berita ini diturunkan, VoxNtt.com belum berhasil mengonfirmasi pihak Pemkab Nagekeo terkait gagal panen tersebut.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

Nagekeo
Previous ArticlePenenun Itu Designer
Next Article Polisi di NTT Diminta Tidak Terlibat Korupsi Dana Desa

Related Posts

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Wilayah Kepulauan MBD dan Kepulauan Alor Berpotensi Jadi Provinsi Sendiri

12 Juli 2026
Terkini

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.