Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Tokoh FMKI Nasional Minta KPU Tinjau Ulang Pemilu di NTT
HEADLINE

Tokoh FMKI Nasional Minta KPU Tinjau Ulang Pemilu di NTT

By Redaksi10 September 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yulius Setiarto
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta, Vox NTT-Yulius Setiarto, tokoh Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) meminta KPU untuk meninjau kembali waktu pelaksanaan pemilu 2019 di NTT.

BACA JUGA: Puluhan Ribu Suara Umat Katolik NTT Terancam Hangus

Hal ini disampaikan Yulius mengingat waktu pelaksanaan pemilu yang digelar Rabu, 17 April 2019 bertepatan dengan peringatan ritual Semana Santa (Rabu Trewa) di Larantuka, Flores, NTT.

“Kita berharap agar waktu ini ditinjau kembali sehingga masyarakat dan penyelenggara di sana bisa fokus mengikuti Semana Santa sekaligus memberikan suara di pilpres maupun pileg,” tegas Yulius saat ditemui VoxNtt.com, Senin (10/09/2018) di Jakarta.

Dia menerangkan, kendala yang dihadapi nanti terkait masalah teknis yang dihadapi penyelenggara maupun masyarakat pemilih.

“Pada saat yang sama penyelenggara harus fokus dengan Semana Santa. Apalagi ribuan peziarah menginap di rumah-rumah warga,” kata ketua FMKI Keuskupan Agung Jakarta ini.

Selain itu, masyarakat pemilih dihadapi persiapan teknis menyambut kedatangan peziarah dan tahap-tahap penting selama prosesi berlangsung.

“Tentu ini sangat dilematis. Apalagi ritual tersebut sudah mendarah daging dan berlangsung sejak zaman bangsa Portugis” kata Yulius.

Untuk itu, dia menyarankan agar pihak penyelenggara bisa meninjau kembali keputusan itu seperti yang terjadi pada pileg 2009 lalu.

“Ini dilakukan demi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam demokrasi elektoral sekaligus toleransi dengan keyakinan lokal,” tutur Yulius.

Penulis: Irvan K

Kota Kupang Semana Santa
Previous ArticleKualitas Proyek Pengerjaan Jalan dalam Kota Kefamenanu Diragukan
Next Article Mahasiswa Muslim NTT Ikut Menolak Jadwal Pemilu Serentak 2019

Related Posts

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026
Terkini

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.