Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Penderita Lumpuh, Tuli, dan Bisu Asal Lamba Leda Ini Butuh Bantuan Pemerintah
HEADLINE

Penderita Lumpuh, Tuli, dan Bisu Asal Lamba Leda Ini Butuh Bantuan Pemerintah

By Redaksi14 November 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Defita Astin (19) (Foto: Ardy Abba/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Meski Modestasia Eme (59) hanya tamat kelas IV SD, namun ia tampak tak gagap menyebut bantuan sosial (bansos) untuk penyandang cacat.

Ia sangat hafal kalimat itu sejak adanya bansos untuk penyandang cacat. Setiap tahun Modestasia mengaku terkadang iri hati.

Itu terutama saat ia melihat penyandang disabilitas lain mendapat bantuan dari pemerintah.

Sementara putrinya Defita Astin (19) yang menderita cacat lumpuh, tuli, dan bisu sama sekali tak disentuh oleh bansos untuk penyandang disabilitas.

Ia sangat sadar salah satu bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap penyandang cacat ialah dengan menyediakan bantuan khusus.

Sejak lama wanita paruh baya asal Kampung Lada, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda itu mengharapkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Pemkab Matim) agar meningkatkan kesejahteraan sosial putrinya, selayaknya penyandang cacat di banyak tempat.

Modestasia mengaku, jalan panjang yang penuh liku-liku selama 19 tahun terus menerpa Defita tanpa ampun. Selama itu pula, istri dari Fransiskus Nabat (71) tersebut mengharapkan sentuhan bantuan dari pemerintah.

Asa yang seakan tak pernah pupus itu muncul lantaran ia dan keluarganya hidup dengan serba kekurangan. Keluarga Modestasia cukup sederhana dan berkategori miskin.

Oleh karenanya, sandaran utama untuk menopang kehidupan putri keenam dari 8 bersaudara pasangan Modestasi Eme dan Fransiskus Nabat itu adalah uluran tangan kasih dari pemerintah dan pihak lain.

“Saya mohon pemerintah Manggarai Timur untuk membantu putri saya,” kata Modestasia penuh harap kepada VoxNtt.com di Kampung Lada, Selasa (13/11/2018).

Terkadang ia mengaku pasrah dan menangis dalam merawat putrinya yang penuh dengan kekurangan. Namun, ia tetap tabah sembari menunggu bantuan pemerintah.

Modestasia memang sempat bernafas lega saat didatangi petugas dari Pemkab Matim pada tahun 2011 lalu.

Saat itu keluarga remaja putri kelahiran Lada, 15 Agustus 1999 itu didata dan difoto oleh petugas di Desa Satar Punda. Modestasia mengaku, delapan tahun lalu itu konon putrinya didata dan difoto untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Namun, sejak saat itu hingga kini dambaan untuk mendapatkan bantuan tak kunjung terwujud. Hanya sebuah kursi roda yang muncul. Keluarga Modestasia merasa tertipu oleh pemerintah karena tak ada bantuan keuangan, sebagaimana layaknya orang cacat di banyak tempat.

Sebab itu, ia dan keluarganya masih sangat mengharapkan agar Pemkab Matim merealisasikan janjinya untuk membantu Defita dengan cara apapun.

Senada dengan istrinya, Fransiskus Nabat mengaku masih mengingat betul saat putrinya didata dan difoto petugas untuk mendapatkan bantuan pada tahun 2011 lalu.

Bagi Fransiskus, kegiatan pendataan itu belum dianggap angin lalu yang tak membekas dalam harapan keluarga mereka.

“Sampai sekarang kami masih menunggu dan sangat mengharapkan bantuan pemerintah,” katanya.

Pantauan VoxNtt.com, defita hanya duduk dilantai saat ibundanya mengisahkan penderitaannya selama 19 tahun.

Kedua matanya hanya menatap, sesekali mengeluarkan senyuman tanpa satu kata pun yang bisa diucapkan.

Ia tak banyak bergerak karena lumpuh. Defita juga tak bisa mendengar karena mengalami gangguan pendengaran sejak lahir.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Sekda Matim Fansi Jahang belum berhasil dikonfirmasi terkait belum terima bantuan atas Defita.

Dihubungi melalui pesan singkatnya, Selasa (13/11), Jahang mengaku masih mengikuti pertemuan di Kupang.

Ia berjanji akan menelepon kembali saat pertemuannya selesai.

Namun hingga Rabu (14/11), Jahang belum menghubungi VoxNtt.com.

Penulis: Ardy Abba

Desa Satar Punda Kabupaten Manggarai
Previous ArticleDinilai Ilegal, Bupati Dula Hentikan Tambang Galian C Milik PT WGP
Next Article Kantor Penghubung KY Diminta Menjaga Martabat Hukum di NTT

Related Posts

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Mobil Avanza Tabrak Rumah di Cibal, Empat Warga Luka-Luka

30 Mei 2026

Petani Desa Meler Sukses Budidayakan Bawang Merah di Daerah Dingin

29 Mei 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.