Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr saat memberkati tanaman Kelor. (Foto: Grace Gracella).

Kupang, Vox NTT-  PT. Tabun Tirta Matonis (TTM) merespons  program Provinsi Kelor yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi.

Tepat pada perayaan ulang tahun NTT ke-60, Kamis 20 Desember 2018, Perusahaan milik Niti Sastro dan Alain Niti Susanto ini menggelar upacara pemberkatan kelor di lokasi persemaian di Manulai II, Alak, Kota Kupang.

Niti Sastro kepada VoxNtt.com menjelaskan, dirinya belum mengetahui secara mendalam tentang manfaat dari kelor. Akan tetapi dia mengaku, dirinya sering kali mendengar cerita tentang berbagai manfaat pohon yang disebutnya ajaib itu.

“Kami memang belum mengetahui secara mendalam manfaat kelor ini, tetapi karena kami juga dengar ini tanaman ajaib yang memiliki prospek pasar ke depan, maka dari itu kami meresponnya dengan melakukan budidaya kelor di NTT dan sebagai orang khatolik, saya memulainya dengan melakukan pemberkatan atas anakan kelor ini,” tutur Sastro.

Pemberkatan yang berlangsung hikmat itu dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr. Selain pemilik perusahaan, upacara itu dihadiri beberapa tokoh Golkar, seperti Felix Pullu sebagai Dewan Pembina Golkar NTT dan Frans Sarong sebagai Wakil Ketua DPD Golkar NTT. Kehadiran kedua tokoh ini sebagai bentuk dukungan kepada Alain Susanto, yang saat ini menjabat Bendahara DPD Golkar NTT. Selain sejumlah tokoh ini, hadir pula keluarga dan kerabat pemilik perusahaan serta sejumlah karyawan.

Mgr. Petrus Turang, Pr saat menanam Kelor. (Foto: Grace Gracella).

Upacara pemberkatan itu ditutup dengan penanam kelor bersama di lahan seluas 7 (tujuh) hektare tersebut. Terlihat, Uskup Turang melepas stola sambil merapikan beberapa perlengkapan yang digunakan saat pemberkatan, kemudian menuju lahan tempat penanaman kelor itu dan memulai menanam. Aksi Sang Mgr serentak diikuti sejumlah tokoh dan umat yang hadir.

Alain Niti Susasnto saat menanam Kelor. (Foto: Grace Gracella).

Di sela-sela kegiatan itu, media ini coba mengawali perbincangan dengan Mgr. Turang terkait pemberkatan tanaman yang akhir-akhir ini kian tenar. Uskup menjelaskan, niat baik dalam menanam dan membudidayakan tanaman kelor merupakan perwujudan pewartaan injil.

Pemberkatan yang diberikan kata dia, merupakan suatu harapan untuk selalu dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, semua yang ada di alam ini berhubungan dengan pencipta. “Apa yang diberikan oleh pencipta, kita menanamnya kembali,” tegas Uskup Turang.

Dia juga menjelaskan beberapa manfaat dan fungsi kelor yang diketahuinya. Kata dia, tanaman bernama latin Moringa Oleifera ini mempunyai banyak manfaat, di antaranya, sebagai salah satu tanaman yang berguna untuk kehidupan manusia.

Felix Pullu menanam Kelor. (Foto: Grace Gracella).

Kelor juga kata dia, berfungsi untuk menambah stamina hidup manusia, sebagai suatu asupan gizi bagi masyarakat juga memberikan vitamin. Di samping itu, kelor juga berfungsi sebagai tanaman yang menyuburkan tanah dan menjaga keseimbangan kadar air tanah.

“Soal tanaman ini,  jangan  hanya berpikir bagaimana menanam dan menghasilkan uang. Tapi juga pikirkan bagaimana dengan adanya lahan ini. Infrastruktur juga dibangun untuk membantu masyarakat keluar dari masalah kemiskinan,” sambungnya.

Menurut Monsinyur, pada lima tahun yang lalu, kelor ini sudah dibacarakan. Bahkan, masyarakat diimbau untuk mengonsumsinya. “Sejak lima tahun lalu, kami sudah omong kelor. Kita bahkan bukan hanya omong, kita sudah tanam-tanam dan makan itu kelor. Pada waktu yang lalu, memang  ini hanya persoalan biasa. Belum dikatakan ada pasar, belum juga dikatakan membantu kesehatan secara lebih ilmiah. Kita selalu ambil contoh orang-orang dari Flores Timur. Mereka dari dulu makan daun kelor, makan jagung titi, makan ikan saja dan mereka punya otak itu bukan main, encer betul,” sambungnya.

Frans Sarong saat menanam Kelor. (Foto: Grace Gracella).

Merespons dicanangkannya Provinsi Kelor, Uskup mengimbau agar pemerintah harus melihat dan juga dilihat agar manusia cinta hidup sehat, cinta ekonomi yang baik. Cinta bahan kehidupan yang baik untuk menjaga lingkungan hidup. Baginya, dengan menanam kelor berarti ikut menyehatkan dan melindungi aroma kesehatan juga menjaga kestabilan lingkungan hidup.

Karena itu lanjut dia, sangat diperlukan regulasi yang jelas saat sungguh-sungguh mencanangkan NTT sebagai Provinsi Kelor. Yang Mulia ini juga berpesan agar selalu hati-hati dalam melakukan penanaman secara masif, sehingga adanya bimbingan kepada masyarakat agar kelak masyarakat mampu mengalami perbaikan gizi kesehatan dan peningkatan pendapatan ekonomi.

Hal senada diungkapkan Niti Sastro. Dia mengatakan, apa yang dilakukan PT. Tabun Tirta Matonis sebagai bentuk support terhadap program yang dicanangkan pemerintah. Tanaman ajaib ini menurut dia, akhir-akhir ini dicari sebagai suplemen bahan makanan.

Kehadiran perusahaan ini sambung dia, juga dapat membantu masyarakat untuk mengelola kelor menjadi bibit, minyak, bubuk dan daun. “Harap kami demikian, agar semua produk yang diproduksi dapat menjadi produk NTT. Dan untuk perencanaan itu, harus dibangun melalui proses,” ungkap Sastro.

 Penulis: Grace Gracella

Editor: Boni J