Kubur almarhum Benediktus Beni (Foto: Sandy Hayon/Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Istri dan kedua anak dari Benediktus Beni tak pernah menyangka jika 30 Oktober 2018 merupakan momen terakhir mereka bersua bersama sang Ayah.

Hari itu, Ayah tercinta pergi meninggalkan keluarga dan kampung halamannya di Ranameti, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur untuk berangkat kerja ke Kalimantan Timur.

Rindu dan air mata pilu mengiringi kepergian Beni. Air mata bukan saja oleh pahitnya perpisahan tetapi juga karena kondisi Beni yang terpaksa pergi meski dalam keadaan sakit.

Pohon kelapa, cokelat dan pisang yang ditanam warga sepanjang jalan dari Ranameti, Waerana, Pongkeking, Waebouk, dan Waepoang seperti menjadi saksi bisu detik-detik kepergian Beni meninggalkan keluarga dan kampung halamannya.

Namun apa mau dikata, peliknya beban ekonomi ditambah janji manis Marsel, orang yang merekrutnya, meringankan langkah Beni untuk berangkat ke Kalimantan melalui bandara Komodo Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Sakit yang dideritanya seperti disembuhkan seketika oleh iming-iming gaji di Pulau Seribu Sungai, Kalimantan.

“Dasarnya memang dia orang tidak sehat dia sering sakit pinggang, paksa diri mau jalan karena tergiur dengan cerita orang,” demikian tutur Yosep Tote, kakak kandung Beni saat ditemui VoxNtt.com, Kamis (10/1/2019).

Menurut Yosep, kepergian almarhum kala itu tanpa sepengetahuan keluarga besar. Hanya istri dan kedua anaknya yang tahu.

Hingga kini, Yosep belum mengetahui pasti nama perusahaan yang mempekerjakan adiknya. Nomor kontak HP Marsel pun tidak dapat dihubungi lagi. Mungkin sengaja dilenyapkan atau sedang berada di tengah belantara hutan Kalimantan.

Yosep yang sekarang menjaga rumah adat di kampung Ranameti sempat kecewa meski kemudian terpaksa merelakan kepergian adiknya.

Dalam benak dia, barangkali kepergian sang adik ke seberang lautan bisa mendatangkan rezeki di kemudian hari. Sejak itu pula, komunikasi dengan adiknya Beni selalu lancar.

”Tanggal 2 Desember 2018 dia sempat telepon saya dari Makasar dan tanggal 3 dia bilang sampai di Balik Papan (Kalimantan Timur),” imbuhnya.

Pada tanggal 3 Desember sesuai janjinya, Yosep menghubungi adiknya lewat Marsel karena sang adik tidak memiliki handphone.

“Pada tanggal 3 Desember itu saya masih mendengar dia punya suara melalui hp milik Marsel,” kisahnya.

Pembicaraan keduanya kala itu tentang alat komunikasi yakni handphone.

“Saya suru dia usahakan gaji bulan pertama nanti beli HP supaya nanti kita bebas dan komunikasi,” kisah Yosep

Kabar Kematian

Penyebab kematian Beni belum diketahui secara pasti. Begitu pula nama perusahaan yang merekrutnya serta identitas lengkap Marsel, perekrut Beni.

VoxNtt.com sempat mengunjungi istrinya di Ranameti, namun di sana tak ada orang. Niat untuk menggali lebih jauh terkait kondisi Beni maupun perusahaan perekrutnya pun terpaksa ditunda.

Kabar kematian Beni diketahui Yosep kakaknya pada 19 Desember malam. Belum genap 2 bulan selepas perpisahaan bersama keluarga pada Oktober lalu.

Saat itu, Yosep sedang mengikuti katekese dan ibadat pengakuan di Ranameti.

“Semua orang pada huru-hara. Mereka takut kasih tahu ke saya dan pada waktu ada adik saya memberitahukan kalau adik Ben sudah meninggal,” kisah Yosep.

Yosep sendiri tak percaya dengan kabar itu. Apalagi sebelumnya tanggal 3 Desember komunikasi antara dia dan almarhum adiknya masih lancar.

“Saya tidak yakin karena sabagai kakak seolah olah tidak ada tanda-tanda. Saya kontak saudara di Bali tetapi belum jelas kepastiannya,” aku Yosep.

Pada tanggal 21 Desember 2018, jenazah almarhum diterbangkan dari Kalimantan menuju Surabaya.

Dari Surabaya ke Labuan Bajo. Semalam di Labuan Bajo, tanggal 23 Desember dua hari menjelang Natal, jasad almarhum tiba di Kampung Ranameti.

Kedatangan peti jenazah Beni bagaikan ‘kado Natal’ yang pahit bagi keluarga khususnya istri dan kedua anaknya. Suasana Natal diselimuti kabut duka.

Kerinduan mengucapkan selamat Natal untuk Ayah tercinta hanya mampu disampaikan dengan air mata perpisahaan abadi. Kini jasad almarhum dikuburkan di belakang rumah milik Yosep Tote.

Selain Beni, selama bulan Desember 2018, setidaknya ada 4 jenazah TKI maupun tenaga kerja antar daerah yang dikirim ke NTT.

Mereka ialah Vinsensius Darman, TKI asal Cumbi, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur yang bekerja di Malaysia.

Disusul, Margareta Bait, TKI asal Kiuoni, Fatuleu Kabupaten Kupang.

Yohanes Mantolas, asal desa Tafuli, Kecamatan Renghap, Kabupaten Malaka.

Deliaty Hedohari, TKI asal Bakunase, Kota Kupang. Jenazahnya tiba di Kupang pada Senin (31/12/2018).

Penulis: Sandy Hayon

Editor: Irvan K