Ilustrasi (Foto: Asumsi.co)

Oleh: Ronis Natom

Cerita tetangga saya, dia adalah salah satu calon anggota dewan daerah. Lima tahun lalu dia juga ikut calon. Dulu ia masih di partai berlambang  singa dan kini maju lagi dari partai berlambang ayam.

Lima tahun lalu itu, dana yang ia habiskan sebesar 250 juta. Informasi diketahui dari dua orang ibu yang asyik gosip di bawah pohon mangga.

Kata mereka, informasi itu cukup akurat. Pasalnya kedua ibu itu sekelompok arisan dengan Tuan Lono, yang nyaleg kali kedua itu.

Uang itu, separuhnya dipinjam dari sebuah koperasi swasta. Separuhnya lagi dari sebuah Bank ternama dengan menggadai sertifikat tanah.

Gosip lain dari ibu-ibu sore itu, sang istri dari Tuan Lono sempat marah dan tidur pisah ranjang, lantaran suaminya nyaleg lagi. Sang suami hanya berdalih, kali lalu, kurang 53 suara saja sudah bisa menang.

Kembali menurut ibu-ibu tersebut,  demi alasan kuasa di dewan, Tuan Lono merayu istrinya pinjam di bank dengan gadai sertifikat. Sebab, di zaman Pak Jokowi, dua bidang tanah milik mereka di seberang kuburan umum, mendapat pembagian sertifikat gratis.

Tuan Lono sendiri berprofesi sebagai pejuang. Disebut pejuang karena dirinya bekerja dalam sebuah lembaga swadaya masyarakat. Lembaga itu, konon bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa.

***

Seminggu belakangan, saya perhatikan Tuan Lono tak tenang lantaran ulah lawan politiknya di daerah pemilihan yang sama. Lawannya itu diisukan akan memakai serangan fajar.

Meski saat kampanye terakhir, Tuan Lono sudah memberikan penguatan kepada sejumlah saksi, namun tetap saja ketakutannya tak mampu disembunyikan.

Kadang ia duduk di teras rumah, ngopi sambil isap rokok. Tak tenang, ia keluar pagar rumah. Sambil otak-atik handhone, telepon kiri-kanan. Saya perhatikan, wajahnya memang lusuh dan tegang.

Ketakutan bukan main Tuan Lono itu lebih tampak saat masuk minggu tenang. Ia tak bisa lagi ke daerah untuk blusukan dan kampanye. Pasalnya, caleg dibatasi aturan. Kalau langgar, bisa saja ia didiskualifikasi. Fatal!

***

Pukul 03.00 Wita, ia masih di teras rumah. Sesekali tengok jam dan telepon.

Tuan Lono ke dapur dan kembali membawa segelas kopi. Dia juga tampak lalu-lalang dari kamar ke ruang tengah, dan teras rumah, lalu kembali lagi ke kamar.

Dua hari lagi, Tuan Lono akan diadili oleh masyarakat di dapil kami. Masyarakat, akan menunjuknya sebagai penyambung  aspirasi atau malah membuatnya serangan jantung lantaran dua sertifikat rumahnya sudah digadaikan.

***

Saya juga dengar isu dua hari lalu, Tuan Lono sempat ke kampung tetangga, berkonsultasi dan meminta arahan dukun mata terang.

Dukun itu, namanya  Bapa Markus.  Selain dipercaya untuk ramal nasib, si dukun juga punya keahlian untuk meramal masa depan, termasuk para caleg.

Dari hasil ramalan, katanya Tuan Lono di atas kertas sudah menang. Tinggal jahit jas dan buat acara syukuran. Namun, catatan penting dari si dukun adalah Tuan Lono harus berjaga-jaga di menit terakhir. Suara dukungan bisa berkurang jika ada serangan fajar tepatnya tiga hari menjelang pencoblosan.

Mendengar itu, Tuan Lono merogoh saku, tak tanggung-tanggung, memberi uang 10 juta untuk si Dukun. Meski, bermodal kunya sirih pinang, komat kamit semenit, si Dukun dihargai dengan uang yang cukup besar.

***

Dari jendela samping kos, saya hanya perhatikan kegalauan Tuan Lono. Hemat saya, jika saja masa tenang berlangsung selama sebulan, Tuan Lono, bisa jadi gila atau kurang darah karena lalu lalang tak jelas dan kurangnya waktu istirahat.

Bayangkan, baru sehari masa tenang, Tuan Lono sudah nyaris tidak tidur semenitpun. Gundah galau tingkat dewa.

Menjelang hari penentuan nasib, istri Tuan Lono, si Marta, juga terlihat sibuk bukan main. Semenjak suaminya nyaleg jilid 2, Marta semakin sering berbagi dengan tetangga.

Bulan lalu, ia sempat mampir ke kos-kosan kami, menanyakan  KTP para mahasiswa. Saat kami menjawab sudah punya KTP dan terdaftar sebagai wajib pilih, ia jadi baik.

Setiap sore, tak tanggung-tanggung Marta mampir ke kos dan menawarkan kami makan malam di rumahnya, atau bahkan pergi sekadar ngopi sore.

Begitulah cerita Tuan Lono. Masa tenang justru menjadi masa yang paling tidak tenang baginya.

*Penulis adalah jurnalis VoxNtt.com