Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia (FKIP-UKI) Santu Paulus Ruteng Program Studi Bahasa Inggris pose bersama anak-anak di rumah adat Kampung Ruteng Pu'u, saat kegiatan PPKM (Foto: Dok. Yosefina Rosdiana Su, S.S., M.Pd, )
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia  (FKIP-UKI) Santu Paulus Ruteng Program Studi Bahasa Inggris menggelar kegiatan Pekan Pengabdian Kepada Masyarakat Mahasiswa (PPKM) selama satu minggu, sejak 17-21 Juni 2019.

Kegiatan PPKM itu berlangsung di Kampung Ruteng Pu,u, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.

Dosen pendamping, Yosefina Rosdiana Su mengatakan, kegiatan PPKM dijalankan di bawah tema ‘Edukasi Pariwisata Berkelanjutan Bagi Kelompok Anak di Kampung Wisata Ruteng Pu’u’.

Ia mengaku, kegiatan edukasi bersama anak-anak yang dilaksanakan di Rumah Gendang Ruteng Pu,u itu dipelopiri oleh  15 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris dengan dipimpin oleh Nur Avivin.

“Kegiatan ini diinisisasi oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris sebagai responsif atas perkembangan Pariwisata Flores yang semakin mendunia,” kata  Yosefina kepada VoxNtt.com, Kamis (20/06/2019).

Menurut dia, Ruteng Pu’u adalah salah satu destinasi wisata di Kota Ruteng yang menjual identitas dan nilai-nilai budaya lokal Manggarai.

Sebagai obyek wisata andalan di Kota Ruteng, kata dia, Ruteng Pu’u belum dikelola secara optimal, sehingga belum berdampak secara ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Yosefina menilai, identitas dan nilai-nilai budaya Manggarai adalah produk wisata yang dijual di Ruteng Pu’u.

Sebab itu, masyarakat di Ruteng Pu’u juga ditantang untuk tetap konsisten pada cara hidup. Warga di sana harus bisa mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.

“Bagaimanakah nilai-nilai ini dapat dipertahankan dan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan? Inilah alasan mengapa tim ini melaksanakan kegiatan PKM kepada kelompok anak di desa wisata ini,” tukas Yosefina.

Menurut Yosefina dan mahasiswa FKIP Bahasa Inggris itu, keberlanjutan pariwisata ini tidak hanya berkaitan dengan dampak ekonomis, tetapi juga ekologis dan sosial budaya.

Oleh karenanya, sebagai generasi penerus, anak-anak perlu dipersiapkan dan mendapatkan edukasi yang tepat agar sejak dini mereka menyadari identitas dan tanggung jawab dalam kerangka sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan).

“Kegiatan ini diisi dengan sharing dan diskusi bersama anak-anak, belajar etika dasar berkomunikasi dengan pengunjung, juga belajar mengucapkan salam dan dialog sederhana dalam bahasa Inggris,” jelas Yosefina.

“Kami bahkan meminta beberapa wisatawan yang berkunjung untuk mendemonstrasikan dialog sederhana dengan anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ini,” tambah dia.

Pihak Yosefina memang menyadari bahwa waktu sepekan tidak cukup untuk menanamkan nilai-nilai pariwisata berkelanjutan.

Namun demikian, ia mengharapkan kegiatan serupa sering dilaksanakan di Ruteng Pu’u dengan menyasar pada kelompok remaja ataupun dewasa.

“Tujuan dari kegiatan ini terutama bagi anak dari kelas 1 SD sampai dengan SMP,” terangnya.

Pihak Yosefina bermimpi, suatu hari Ruteng Pu’u akan memiliki Komunitas “Local Little Guide” yang akan didampingi langsung Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

“Kami senang, karena kami sudah memulai. Dan semoga kegiatan kami ini juga mendapatkan dukungan dari semua pihak, terutama orang tua dan masyarakat di desa adat Ruteng Pu’u ini,” ucap Yosefina.

Ia menambahkan, selain kegiatan edukasi tersebut, tim PKM juga mengajak anak-anak untuk peduli dengan lingkungan.

Sebagai perwujudannya,  tim mengajak anak-anak untuk bersama-sama membersihkan lingkungan di Kampung Ruteng Pu,u.

Ketua PPKM, Nur Avivin menjelaskan, destinasi wisata idealnya menjadi passport to development yang mampu menghidupkan aktivitas ekonomi lainnya, sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat di lokasi wisata.

Nur mengatakan, program-program  edukasi bagi masyarakat di wilayah sasaran harusnya menjadi prioritas dan langkah strategis dalam mengupayakan pengelolaan yang efektif bagi destinasi pariwisata ini.

Masyarakat harus memahami potensi yang mereka miliki dan bagaimana potensi ini dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kita perlu belajar dari kampung adat lainnya, seperti Bena misalnya,” Ucap Nur.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

alterntif text