Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Festival Caci di Matim Sudah Ditonton oleh Enam Negara
Seni dan Budaya

Festival Caci di Matim Sudah Ditonton oleh Enam Negara

By Redaksi1 Agustus 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para penari Caci di Toka Borong (Foto: Sandy Hayon)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTT mengaku Festival Caci yang digelar di Kampung Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) sudah ditonton 6 Negara di dunia.

“Bapak bupati kemarin kami sudah mengeksposkan festival ini melalui streaming internasional dengan pater Agus di Amerika,” ucap Agustinus Harum, kepala seksi promosi wisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, saat memberikan sambutan pada acara penutupan Festival Caci di Toka, Senin (31/07/2019).

Agustinus mengaku, festival yang digelar selama dua hari itu sudah ditonton oleh 6 Negara di dunia dan juga telah dipublikasikan oleh beberapa media lokal yang ada di NTT.

“Ini artinya bahwa, Caci kali ini sudah menembus lapisan dunia,” kata Agus diiringi dengan tepuk tangan meriah warga yang hadir.

Dia menjelaskan, festival tidak hanya memerlukan keterlibatan banyak orang, tetapi juga mampu memberikan sebuah koreografi untuk mempertunjukkan Caci kepada orang banyak.

“Jadi pertunjukkan kita menyaksikan bagaimana melihat koneksi gerak dengan bunyi gendang. Antara Paki (pukul) dan Paci (bahasa kiasan yang mengartikan kehebatan seseorang dalam bermain Caci). Tetapi yang paling penting, lomes ((keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai) boleh lomes tetapi normatif,” ucap Agustinus.

Dia menilai festival kali ini merupakan awal yang baik dari perkembangan dunia pariswisata Manggarai Timur ke depan.

“Kalau ada yang kurang lengkap jangan kritik di antara kita. Kita promosikan yang baik, sehingga ke depan orang akan datang menonton kita di sini,” tukasnya.

Terpisah, Bupati Manggarai Timur Agas Andreas mengatakan, Festival Caci yang digelar di Toka merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mempromosikan pariwisata di kabupaten itu.

“Salah satu bagian yang ditonton ini adalah atraksi. Dan saya yakin festival ini memberi dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat pada masa yang akan datang,” ucap Agas.

Agas pun berjanji pada tahun 2020 mendatang Festival Caci akan kembali digelar, tetapi di tempat lain yang ada di Manggarai Timur.

Oleh karena itu kata dia,  setiap kecamatan wajib memberikan proposal pengajuan penggelaran Festival Caci.

“Pergi di tempat yang ada rumah gendangnya jangan kita pigi di lapangan. Tahun depan kita buat lagi pa Sekda. Saya suka yang begini, tapi harus pindah tempat,” kata mantan Wakil Bupati Matim dua periode itu.

“Orang Borong jangan hanya tahu Borong saja, tetapi orang Borong harus tahu juga tentang Elar Selatan,” tambah dia.

Hal itu jelas dia, sebagai upaya untuk membangun solidaritas dan kepedulian sesama bagi masyarakat Matim ke depan.

“Jangan orang Elar Selatan datang ke sini (Borong) terus tetapi kita juga harus lihat Elar Selatan,” tukasnya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Aksi Pria Tak Berbaju, Pesan Budaya dari Karot

Festival Caci Manggarai Timur
Previous Article70 Anggota Paskibra Kabupaten Nagekeo Mulai Jalani Diklat
Next Article Situasi di Perbatasan Matim dan Ngada Masih Kondusif

Related Posts

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026
Terkini

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.