Warga Dusun Auktuik, desa Tasain, Kabupaten Belu mengambil air di kali terdekat untuk makan-minum, mandi dan mencuci (Foto: Marsel/VoxNtt.com)
alterntif text

Atambua, Vox NTT-Meski sudah puluhan tahun warganya timba air minum di kali, pemerintah Desa Tasain enggan mengalokasikan Dana Desa yang nilainya 2,6 miliar lebih untuk menyediakan fasilitas air bersih.

Akibatnya, warga tidak hanya kesulitan mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau, tetapi juga saat musim hujan tiba.

Selain tidak memiliki tempat penampungan seperti bak, fiber atau wadah lainnya, kondisi diperparah dengan bencana banjir yang datang setiap musim hujan.

Warga harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari hingga banjir surut untuk mengambil air dan menggali mata air seadanya di dalam kali.

Pantauan VoxNtt.com, Sabtu (03/08/2019) di dusun Funeno, dusun Auktuik dan dusun Meotroi, warga berbondong-bondong mengambil air menggunkan ember dan jeriken dari kali.

Menurut warga yang ditemui media ini, kali tersebut biasanya mulai kering sejak bulan Agustus.

alterntif text

Yosefina Ulu (56), warga Dusun Funeno mengisahkan, dirinya bersama warga lainnya terpaksa menimba air kotor apabila banjir. Air yang ditimba diendapkan dulu, sebelum digunakan untuk mandi atau mencuci.

“Kalau musim hujan dan banjir kami timba air kotor dan simpan (endapkan) paginya baru dipakai” aku Yosefina.

Dikatakannya, jarak dari rumah ke sumber air biasanya sering berubah seiring berpindahnya mata air. Kalau air sudah mulai mengering di hulu, maka mata air akan berpindah ke hilir.

Kondisi tersebut, kata Yosefina, terjadi berulang-ulang. Pada puncak musim kemarau jaraknya bisa mencapai 1,5 hingga 2 KM.

Hasil pengamatan VoxNtt.com di dusun Funeno, tidak ada satu pun sumur yang tersedia. 57 kepala keluarga (KK) di sana hanya mengharapkan air dari kali terdekat.

Warga Dusun Funeno saat pulang mengambil air di kali (Foto: Marsel/VoxNtt.com)

Selain itu, Agustinus Manek (49) warga dusun Auktuik mengisahkan sepanjang ia tingga di desa Tasain, dirinya bersama warga sekitar selalu mengambil air di kali.

Ia mengakui bahwa di sekitar rumahnya terdapat sebuah sumur. Namun sumur tersebut tidak bisa digunakan lantaran dekat dengan WC. Sejak digali, sumur tersebut tidak pernah dipakai.

“Sepanjang tahun kami timba air di kali seperti ini. Ada 1 sumur tapi dekat WC jadi kami tidak pernah timba air di sumur itu” tutur Agustinus.

Kesulitan air bersih juga dialami warga dusun Auktuik B. Warga termasuk anak-anak  harus menghabiskan waktunya di kali untuk mencuci dan mencari sumber air.

Oktoviana Mau (35) warga dusun Auktuik B mengisahkan, kesulitan air bersih sudah sering diusulkan dalam rapat di kantor desa sejak Dana Desa bergulir. Namun, usulan yang disampaikan warga tidak pernah ditindaklanjuti.

Padahal, kesulitan air bersih sudah menjadi masalah pelik yang diderita warga desa Tasain sejak puluhan tahun lalu.

“Masyarakat sering usul untuk buat sumur atau tarik pipa, tapi orang besar dong (mereka/red) tidak mau kerja. Kami setengah mati karena tidak ada sumur. Ini kali juga sedikit lagi sudah kering,” ujar Oktaviana saat ditemui di kali di dekat dusun Auktuik B.

“Kalau musim hujan kita harus gali mata air di pinggir karena banjir. Jadi tempat timba berpindah-pindah karena airnya kotor” tambah Agustina  sambil menggayuh air ke dalam jeriken miliknya.

Agustina mengakui bahwa di dusun Halemau, desa Tasain terdapat sumber air yang sebenarnya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat desa. Namun demikian pemerintah desa Tasain enggan mengerjakannya.

“Baru-baru ada usulan untuk buat sumur bor dan fiber. Kami dari dusun Auktuik A dan B usul supaya pemerintah Deda tarik leding dari dusun halemau tapi belum dijawab” tuturnya.

Ironisnya, di balik kesulitan warga desa Tasain yang sudah puluhan tahun menimba air di kali, pemerintah desa Tasain lebih fokus mengerjakan proyek jalan.

Pada tahun 2017, 2018 dan 2019, Dana Desa yang bernilai miliaran rupiah hanya digunakan untuk membangun jalan dan rumah PAUD.

Anehnya, jalan yang dikerjakan tidak untuk perluasan pemukiman atau untuk kebutuhan pertanian. Jalan yang dibangun bahkan mubazir dan sudah rusak.

Selain itu, beberapa PAUD integrasi yang dibangun juga tidak digunakan, bahkan ada yang tidak selesai dikerjakan.

Mubazirnya jalan tersebut diakui kepala desa Tasain, Amandus Koamesak.

Ditemui dikediamannya di dusun Auktuik, Amandus mengakui bahwa jalan yang dibangun pada tahun 2017 dan 2018 sudah mulai rusak. Ia malah berjanji akan memperbaikinya.

Soal air bersih, Amandus mengaku belum menjadi usulan. Selain itu, dia mengatakan kualitas air di wilayahnya tidak baik sehingga ia tidak mau mengalokasikan Dana Desa untuk menggali sumur.

“Air di sini rasanya asin dan untuk air bersih belum ada usulan jadi tahun ini kita buat lagi peningkatan jalan 3.5 KM dan PAUD integrasi di dusun Meotroi” pungkasnya.

Ditanyai mengenai jalan yang mubazir dan mulai rusak, Amandus mengaku sebagai kelalaian pihaknya. Dia mengaku tidak matang dalam melakukan perencanaan.

“Itu sudah. Itu mungkin kesalahan kami dan semoga ke depan bisa diperbaiki terutama dalam hal perencanaan,” tutur Amandus.

Selain kesulitan akses ke air bersih, masyarakat desa Tasain juga belum menikmati listrik. Padahal letak desa ini berada persis di jalan trans Timor yang sudah puluhan tahun dialiri listrik.

Kondisi PLTS yang sudah 3 tahun dibiarkan mubazir

Selain itu, di dekat kantor desa, terdapat sebuah PLTS bantuan dari pemerintah pusat. Sayangnya, PLTS yang ada tidak dimanfaatkan sehingga jaringan listrik yang sudah ditarik ke rumah warga tidak digunakan.

Terkait mangkraknya PLTS, kades Amandus beralasan belum memiliki dana serta tenaga teknis.

“Kita belum ada dana karena alat yang rusak mahal. Harus pesan dari Jawa. Terus tidak ada teknisi” jelas Amandus.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Irvan K