Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»(Puisi) Doa Seorang Pelacur
Sastra

(Puisi) Doa Seorang Pelacur

By Redaksi18 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Okssi68/Thinkstock)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp
*) Puisi-Puisi Melki Deni *
Doa Seorang Pelacur
Kecewa memang ekor terkeren dari perjuangan keras.
Ia selalu menari dari belakang,
Mengejar cela-cela perjuangan sang teguh.
Kecewa ialah dosen tergratis dalam memberikan kuliah-kuliah kehidupan.
Sebab hidup selalu bergerak, berkembang dan bermaju.
Kematian hanyalah tempat bagi yang tak mau menerima perubahan dan perkembangan.
Tiada yang bisa memaksa tuk bertandang dalam medan pertempuran yang sama.
dan tak ada yang berhak tuk mengurungi kehidupan ini.
Tak boleh ciptakan sangkar sehingga aku dipenjarakan di dalamnya.
Aku hanya mau memupuk tanaman kejujuran dan kesetiaan.
dan setiap pagi aku berusaha mencabut kebohongan, gombalan, munafik dan tipu daya sampai ke akar-akarnya.
Tapi tetaplah di-tumbuh-kan dengan siraman air yang mengalir dalam hati itu.
Tak apalah, yang sia-sia bukanlah sia-sia atau terakhir.
Memang kita tidak lebih dari dua orang yang tidak berpikir tentang hal yang sama,
kendati menggunakan bahasa yang sama.
Mengapa Aku Tanya!
Sedari kecil aku bertanya tentang yang tidak bisa dijawab lengkap.
Memang pertanyaan adalah jawaban yang harus ditanya terus-menerus.
Mengapa harus ada peperangan di dunia yang dihuni oleh daging-daging murahan dari debu tanah?
ada bahasa yang dilahirkan nenek moyang kita!
Mengapa tidak berpikir suci, bertutur manis, dan berlaku lembut.
Bibir-bibir sudah dilas dengan aluminium murahan di bengkel pinggir jalan.
Aku tetap bertanya,
Mengapa ada ayahanda bertuhan memerkosa anak gadisnya?
Ibunda dibunuh anak kandung di tempat tidur?
Otak-otak sudah dicemar oleh puing-puing elektromagnetik di depan emperan maya.
Mengapa ada manusia mengobral murah manusia lain di tangan manusia tidak bermoral?
Aku haus akan jawaban yang jujur, tanpa melilit ngawur.
Atau jika sudah dijawab dengan analogi dan metafora,
aku tetap bertanya.
Mengapa harus ada yang rela gugur di kota-kota besar demi Tuhan, kekuasaan, nama, kepentingan, melayani tuan nafsu dan nafsu tuan-tuan monster?
Aku tetap bertanya kepada siapa saja yang rela mendengar.
Mengapa ada Tuhan yang haus akan pujian dan belaan?
Mengapa aku harus bertanya!
*Melki Deni, mahasiswa semester III STFK Ledalero Maumere, berasal dari Reo Manggarai. Penyair aktif menulis pada beberapa media. 
Melkisedek Deni
Previous ArticleBendera Pemberian Jokowi Dikibarkan di TN Kelimutu
Next Article (Puisi) Kampus Kuning Hari Ini

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Apa yang Tersisa dari Manusia Ketika Artificial Intelligence Meniru Segalanya?

11 Juli 2026

IFTK Ledalero Gelar Konser Amal di Kupang, Target Himpun Dana hingga Rp600 Juta untuk Renovasi Biara

10 Juli 2026

Menakar Prioritas NTT: Antara Berburu Pajak Plat Luar dan Menelantarkan Terminal Tipe B

10 Juli 2026

Pengda INI dan IPPAT Manggarai Barat Sosialisasikan Hukum Pertanahan di Desa Batu Cermin

9 Juli 2026

Pater Gabriel Meo Rayakan 40 Tahun Imamat, Umat dan Pemerintah Hadiri Misa Syukur di Kererobbo

9 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.