Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Penetapan Tersangka Kasus NTT Fair Dinilai Tidak Prosedural
HUKUM DAN KEAMANAN

Penetapan Tersangka Kasus NTT Fair Dinilai Tidak Prosedural

By Redaksi29 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kuasa hukum tersangka kasus NTT Fair, HP. Samuel Haning saat jumpa pers di Kupang, Kamis 29 Agustus 2019 (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Penetapan tersangka kasus pembangunan NTT Fair oleh kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai tidak prosedural.

Hal ini disampaikan kuasa hukum tersangka kasus NTT Fair, HP. Samuel Haning saat jumpa pers di Kupang, Kamis (29/08/2019).

Penetapan tersangka dalam kasus NTT Fair juga kata dia, dinilai cacat hukum dan non prosedural, karena hasil pemeriksaan kerugian Negara dilakukan oleh lembaga yang tidak sah.

“Ini perlu kita luruskan bahwa kalau menyangkut kasus ini adalah harus melalui unsur prosedural. Kalau tanpa melalui prosedural maka penetapan tersangka itu tidak dipenuhi,” kata Haning.

Menurut Haning, sesuai ketentuan UU, hanya lembaga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang berhak mengaudit proyek dan menyatakan adanya kerugian Negara.

Akibat penetapan tersangka yang dinilai tidak prosedural itu jelas dia, maka tersangka kasus NTT Fair mengajukan pra peradilan kepada Kejati NTT.

Kejati NTT telah menetapkan enam tersangka dalam kasus NTT Fair yakni, YA selaku mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat Provinsi NTT, DT selaku pejabat Pembuat Komitmen (PPK), HP dan LL selaku kontraktor, serta BY dan FB selaku Konsultan Pengawas.

Berdasarkan surat edaran Jaksa Agung Nomor 4 tahun 2016 menyatakan bahwa lembaga yang berhak menyatakan ada atau tidaknya kerugian negara adalah BPK.

Namun faktanya kata Haning, dalam menetapkan kerugian Negara dalam kasus NTT Fair menggunakan lembaga yang tidak berwenang yakni Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang menyatakan kerugian Negara mencapai Rp 6 miliar.

“Politeknik bukan lembaga audit, sehingga tidak bisa dijadikan dasar tetapkan kerugian Negara,” katanya.

Karena itu, Haning menilai penetapan tersangka kasus NTT Fair adalah cacat hukum. Sehingga penetapan tersangka harus batal demi hukum.

“Jika ke depan ada novum baru, maka silahkan saja jaksa kembali menetapkan tersangka,” katanya.

Selama ini, lanjut dia, tidak ada hasil audit BPK yang menyatakan adanya kerugian Negara dalam kasus NTT Fair.

“Jika pun ada, maka biasanya Pemda NTT diminta untuk menuntaskan temuan itu dalam rentan waktu 60 hari. Nah, ini prosedural yang keliru dilakukan oleh Kejati NTT,” katanya.

Dia juga mempertanyakan penetapan tersangka oleh Kejati NTT tanpa dilakukan gelar perkara yang melibatkan semua unsur.

“Kapan dilakukan gelar perkara atas kasus ini. Tiba- tiba sudah ada tersangka,” ujarnya.

Haning menilai ada kriminalisasi dalam kasus ini. Karena penetapan tersangka tanpa adanya kerugian Negara.

“Ini sangat bahaya, karena orang ditangkap dan dijadikan tersangka tanpa dasar kerugian Negara,” tegasnya.

Pra peradilan yang dilakukan para tersangka mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kupang dengan agenda mendengar tanggapan dari Kejati NTT.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

Kota Kupang NTT Fair
Previous ArticleSoal Tanah Eks HGU Hokeng, Suku Tukan Mengadu ke Komnas HAM
Next Article Dua Hari Menjabat, Begini Pesan Akademisi Terhadap 30 Anggota DPRD Ende

Related Posts

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Pekan Depan, Janda Muda Asal Ngada Jalani Sidang Perdana Dugaan Pencemaran Nama Baik

12 September 2026

Kejari Mabar Geledah Kantor KPU Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp28 Miliar

8 September 2026
Terkini

Kafegama dan JPIC OFM Tuntaskan Distribusi 1.265 Paket Bantuan di Sambi Rampas Manggarai Timur

15 September 2026

Desil, Data, dan Keadilan

15 September 2026

KPAI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual terhadap 13 Anak SD di Sumba Barat

14 September 2026

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.