Teofanus Rifky Sandi (2), penderita tumor mata asal Wejang Kalo, Desa Tal, Kecamatan Satarmese Manggarai. Foto diambil Sabtu (09/11/2019) (Foto : Pepy Kurniawan/ Vox NTT)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT – Teofanus Rifky Sandi (2) terus meringis kesakitan di pangkuan ibunya.

Warga asal Wejang Kalo, Desa Tal, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai ini menderita tumor mata sejak September lalu.

Putra pasangan Inosensius Sandi (21) dan Akuilina Ndai (18) itu lahir dalam keadaan normal pada 17 Desember 2017 lalu.

Beberapa hari setelah lahir, kedua kelopak mata Rifky tak bisa dibuka. Tak jarang ia menangis histeris.

Sebab itu, kedua orangtua Rifky mengantarnya ke rumah seorang warga untuk melakukan pengobatan tradisional. Pilihan pengobatan ala tradisional terpaksa diambil lantaran keterbatasan ekonomi.

Kedua orangtuanya kemudian senang. Pasalnya, mata Rifky bisa terbuka kembali pasca pengobatan.

Namun perlahan bola mata bagian kanannya mulai merah-merah, seperti mata kucing.

Ia pun terus menggosok matanya karena merasa sakit. Hari demi hari, bermula dari biasa-biasa saja, kini bola mata bagian kanannya terus membesar.

Sejak September lalu, Rifky sering menangis ketika matanya terasa sakit.

Sekitar tiga minggu yang lalu, ia sempat dibawa ke Puskesmas Iteng untuk mengobati matanya. Namun tak sempat dirawat dan langsung dirujuk ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Saat itu Rifky hanya diberikan obat oleh dokter anak, namun tidak ada perubahan.

Selanjutnya, pada 6 November lalu orangtua Rifky mengantarnya kembali ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Namun, orangtua Rifky kembali bersedih karena tidak sempat dirawat dan langsung dirujuk ke salah satu Rumah Sakit di Bali.

Bo eme lewie pak aman-aman kat. Toe manga danga retang. Tapi eme le leso sering keta retang, landing toe manga beheng. Mungkin leng rasa betin le hia,” ungkap Akuilina, ibunda Rifky dalam bahasa daerah Manggarai kepada VoxNtt.com di rumahnya, Sabtu (09/11/2019) sore.

“Kalau malam aman-aman saja, jarang menangis. Tapi kalau siang ia sering menangis, tapi tidak lama. Mungkin karena dia merasa kesakitan”

Keluarga Tak Mampu

Derita yang dialami Rifky membuat kedua orangtuanya pusing untuk mencari biaya pengobatan.

Apalagi, pasutri ini baru berkeluarga sejak tahun 2016 dan menikah pada September 2019 lalu.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Iwan sapaan akrab ayah Rifky, hanya bekerja sebagai petani sawah dan menjadi buruh di lahan milik orang lain.

Penghasilannya sangat sedikit. Apalagi istrinya tak bisa membantu suami untuk bekerja mencari uang karena harus menjaga dan merawat Rifky di rumahnya.

Sejak lama, Iwan bermimpi untuk bisa mengobati penyakit yang dialami anak sematawayangnya.

Namun hingga kini mimpi itu belum menjadi kenyataan. Ia mengaku terus memikul kesedihan ketika menatap wajah anaknya yang kerap menangis melawan rasa sakit.

Setiap hari ketika pulang kerja, Iwan mengaku kerap menetes air mata ketika melihat mata Rifky yang terus membesar.

Terkadang ia mengaku pasrah dan menangis dalam merawat anak yang penuh dengan kekurangan itu. Kendati demikian, ia tetap tabah sembari menunggu bantuan.

Gilek terus wae mata eme lelo hia pas kole kerja e Pak, sedih keta woko lelo sengsara de hia hadap beti hoo. Kerja daku ga hanya ngance hang wie leso kali. bom ngance kerja kole ende’n, ai jaga hia cee mbaru. Toe manga seng aku kut biaya obat mata de hia, apalagi mahal eme obat tumor mata,” ungkap Iwan dengan raut wajah murung sembari menatap mata anaknya yang tak kunjung membaik.

“Air mata saya selalu menetes ketika melihat dia (Rifky) saat pulang kerja pak, saya sangat sedih melihat penderitaannya menghadapi penyakit ini. Saya kerja hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Karena ibunya tidak bisa bekerja, karena menjaga dia di rumah. Saya tidak punya uang untuk mengobati matanya, apalagi biayanya sangat mahal kalau mengobati tumor mata”

Kekurakangan ekonomi yang boleh dialami keluarga Rifky bukan hanya narasi belaka.

Terpantau VoxNtt.com, rumah keluarga baru ini berdindingkan pelupuh bambu. Parahnya, banyak lubang karena sudah keropos.

Atapnya memang terbuat dari sink, namun sudah berkarat. Warnanya pun berubah menjadi hitam kecoklatan.

Lantainya memang dari semen. Bagian ini saja yang dianggap aman bagi Iwan.

Di rumah sederhana ini sudah menjadi saksi bisu bagaimana penderitaan terus merongrong keluarga kecil Rifky.

Butuh Bantuan

Kondisi yang serba kekurangan, apalagi dengan sakit yang dialami Rifky membuat keuangan kecil ini terus merosot.

Iwan yang menjadi tulang punggung keluarga seakan kehabisan cara untuk mencari biaya pengobatan sang buah hati. Apalagi umurnya yang terbilang masih muda.

Ia mengaku bingung, entah kemana harus mencari uang untuk membiayai pengobatan Rifky.

Iwan mengaku tak memiliki uang yang cukup untuk mengobati anaknya. Sebab itu, ia sangat membutuhkan bantuan pihak lain untuk membatu pengobatan anaknya.

Toe manga pas seng e pak, mudah-mudahan manga ase kae ata ngoeng bantu ami kut ngance obat mata di Rifky. Hitu keta harapan dami hoo ga, ai bo kut imbi kawe de ru aku lite toe mnga ngance,” tuturnya penuh harap dalam bahasa daerah Manggarai.

“Uang tidak cukup pak, mudah-mudahan ada saudara-saudari yang mau membantu kami untuk mengobati mata Rifky. Kami sangat mengharapkan itu, karena saya sudah tidak bisa mencari sendiri biayanya”

Untuk orang yang ingin membantunya, bisa melalui nomor nomor rekening: 027301016585530 (BRI Cabang Ruteng), Atas Nama Inosensius Sandi, ayah Rifky.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

alterntif text