Para pemateri dalam kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Karya Murni Ruteng di Iteng
alterntif text

Ruteng, Vox NTT – Yayasan Karya Murni Ruteng menggelar seminar dengan tema ‘Menuju Desa dan Pendidikan inklusi di Manggarai’

Seminar dalam rangka memperingati hari disabilitas internasional 2019 tersebut dilaksanakan di Iteng, Kecamatan Satarmese selama dua hari, terhitung sejak 1 sampai 2 Desember 2019.

Koordinator program CBR Yayasan Karya Murni Ruteng Sebastianus Hanu mengungkapkan, kegiatan pada hari pertama yakni misa khusus untuk merayakan peringatan hari disabilitas internasional.

Setelah itu, dilanjutkan dengan pergelaran seni dan pameran karya anak disabilitas dari Karya Murni Ruteng dan kelompok dampingan program rehabilitasi berbasis masyarakat dari wilayah Iteng dan Narang.

Sementara pada hari kedua diadakan seminar dengan tema umum nasional ‘Indonesia Inklusi, Disabilitas Unggul’.

Panitia mengambil tema khusus ‘Menuju Desa dan Pendidikan Inklusi di Manggarai’.

Menurut Sebas, konsep inklusi adalah suatu upaya untuk menarik masuk, mengutamakan kesetaraan, keterlibatan bersama dan membongkar perbedaan antara penyandang disabilitas dan masyarakat umumnya.

Tujuan kegiatan ini, kata dia, adalah untuk membongkar stigma negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas.

Selain itu, sebagai upaya untuk menyamakan persepsi terhadap isu disabilitas di desa. Kemudian mendorong pemerintah desa untuk mengakomodir kepentingan dan keterlibatan bersama penyandang disabilitas dalam pembangunan.

Sebas menjelasakan, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong terwujudnya proses pendidikan inklusi di Manggarai. Kemudian mendorong pemerintah desa untuk mewujudkan desa inklusi di Manggarai.

Dia berharap melalui kegiatan ini bisa memberikan pemahaman dan pencerahan sikap dalam mewujudkan lingkungan inklusi di desa dan juga di sekolah.

Kegiatan seminar ini dibuka secara resmi oleh Camat Satarmese Damianus Arjo.

Dalam sambutan singkatnya, Camat Damianus mengajak para kepala desa untuk terbuka dalam kebijakan pengelolaan dana desa terhadap penyandang disabilitas.

Dalam hal ini, lanjut dia, harus berpegang teguh pada regulasi dan petunjuk teknis yang mengatur tentang pengelolaan dana desa.

Dia juga mengungkapkan bahwa semua yang hadir pada kesempatan itu sama dan saling melengkapi dalam hidup bersama.

Camat Damianus mengangkat contoh ketika pada hari sebelumnya ia hadir menyaksikan pergelaran seni. Ia kemudian menyanyi dan musiknya dimainkan oleh anak tuna netra.

“Melalui ini kita diajak untuk saling mendukung dan mendorong adanya kesetaraan dalam pembangunan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut dipandu oleh salah satu pemateri dari pemerhati disabilitas Yayasan Ayo Indonesia, Yohanes Nerdi.

Yohanes membahas tentang praktik nyata menuju desa inklusi yang ditunjukkan dalam 9 kriteria utama desa inklusi.

Kriteria itu yakni adanya data penyandang disabilitas di desa, adanya wadah bagi kelompok difable, adanya jaminan keterlibatan dalam proses mengambil kebijakan dan adanya perencanaan anggaran untuk difable.

Selain itu, juga ada regulasi yang mendukung, kesetaraan akses, keberadaan sarana yang aksesible, adanya bentuk tanggung jawab sosial masyarakat dan adanya ruang berinovasi dan berjejaring.

Sementara pemateri kedua tentang pendidik inklusi oleh Elias Dagung. Dalam materinya ia menjelaskan praktik pendidikan inklusi di sekolah dan manajemen pelaksanaanya di kelas inklusi.

Hadir dalam kegiatan ini para kepala desa dan staf dari 23 desa di Satarmese dan kepala sekolah dan guru SD, SMP dan SMA di kecamatan itu.

Hadir juga Kapolsek Iteng dan Pastor Paroki Iteng.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba