Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»687 Anakan Mangrove yang Ditanam di Pinggir Jalan Lingkar Luar Kota Borong Mati
NTT NEWS

687 Anakan Mangrove yang Ditanam di Pinggir Jalan Lingkar Luar Kota Borong Mati

By Redaksi12 Desember 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pohon mangrove yang sudah mati. Foto diambil, Kamis (12/12/2019) siang (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT-Sebanyak 687 anakan pohon mangrove ditanam di pinggir jalan lingkar luar Kota Borong, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) Jumat, 15 November 2019 lalu.

Kendati demikian, pantauan VoxNtt.com, Kamis (12/12/2019) siang, ratusan anakan pohon mangrove yang ditanam sebulan yang lalu itu mati.

VoxNtt.com bahkan menelusuri kawasan hutan mangrove itu selama dua jam. Namun tidak satu pun anakan mangrove yang ditanam itu hidup.

Di lokasi yang lain, hanya ditemukan sisa-sisa polibek dan ranting-ranting anakan pohon yang sudah patah dan mengering.

Padahal, Jumat, 15 November 2019 lalu, Plt. Lurah Kota Ndora Yoseph Sunardi Dani, mengatakan kegiatan penanaman mangrove itu bertujuan untuk memacu semangat masyarakat, kelompok pencinta mangrove dan para pelajar.

Apalagi mangrove, kata dia, menjadi salah satu sumber kekuatan, sumber inspirasi dan nafas perekonomian khususnya masyarakat Kota Ndora.

“Mangrove ini kita mau jadikan sebagai aset bukan saja menjadi obyek wisata ke depan tapi pusat perputaran ekonomi,” ujarnya.

Lurah Nardi juga mengaku, rusaknya mangrove di pantai Borong diakibatkan oleh pembabatan dan ternak masyarakat

Selain Lurah Nardi, Sertu Nenga Budiana seorang Babinsa yang bertugas di Kelurahan Kota Ndora, mengatakan sangat mendukung kegiatan yang dicanangkan oleh lurah Kota Ndora.

“Andai saja mangrove ini nanti berkembang tentunya kita juga yang akan menikmati, dalam arti fungsi hutan ini untuk menahan abrasi mungkin tsunami, mungkin itu penghalang dari bencana bagi kami,” papar Nenga.

“Kami sebagai Babinsa selalu mendampingi Pak Lurah bentuk kegiatan apa pun yang disampaikan Pak Lurah kami selalu mendampingi dan selalu berkoordinasi,” tambahnya.

Menurut Nenga, apa yang disampaikan rekan-rekan lain yang mungkin menyatakan bahwa mangrove ini dirusak itu omong kosong.

“Bagi saya sebagai Babinsa omong kosong itu hanya celotehan orang yang tidak sependapat dengan kelurahan khususnya pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur,” ujarnya.

Mangrove Digusur

Di tengah geliat kegiatan penananam mangrove yang kini sudah mati, Pemda Matim justru membuka jalan baru yang mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove.

Pemda Matim melalui dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (PUPR) berdalil pembukaan jalan itu, demi mengamankan aset Pemda dan menghindari pengklaiman tanah oleh pemerintah.

“Selama ini kan batasnya tidak jelas di mana tanah warga di mana hutan mangrove. Seiring dengan perkembangan dari waktu ke waktu ada kecenderungan pencaplokan area kawasan mangrove, di mana warga mulai mengklaim tanah mereka jauh ke dalam wilayah hutan mangrove, diharapkan dengan pembukaan jalan di kawasan tersebut akan memperjelas di mana batas hutan mangrove dan di mana batas tanah warga,” kata Kadis PUPR, Yosep Marto seperti dilansir salah satu media Senin, 11 November 2019 lalu.

Menanggapi hal itu Siti Hawa (62) ahli waris yang juga pemilik lahan geram. Ia bahkan meminta Kadis Marto untuk mengecek siapa sesungguhnya pemilik lahan dan yang mengklaim tanah itu.

“Siapa yang mengklaim? Mengapa dia menuduh saya. Di daerah itu ada tanah milik saya dan sudah memiliki sertifikat. Dan ini sudah diakui oleh BPN,” ujarnya kepada VoxNtt.com, Senin, 11 November lalu di Borong.

Dia juga mengaku, selain tanah itu milik pribadi yang sudah diakui oleh negara, juga mangrove yang berada di tempat itu ditanam.

“Memang ada yang tumbuh sendiri tetapi tidak banyak. Makanya dulu saya dan suami saya (Haji Muhamad Umar Bah amarhum) tanam di situ. Hal itu kami lakukan untuk melindungi pemukiman warga dan sekolah SD Inpres Kota Ndora. Ini untuk kepentingan umum,” ujarya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur Matim
Previous ArticleDPRD Tidak Diundang dalam Konsultasi Publik Lahan 400 Hektare BOPLBF
Next Article Pria di Nagekeo Ini Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 13 Anak

Related Posts

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.