Gubuk reyot milik Daniel Lio di RT 18, Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang (Foto: Ronis Natom/ Vox NTT)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-200 meter dari pagar beton milik Kampus Universitas Widya Mandira Kupang di Penfui, terdapat sebuah gubuk reyot. Ke arah timur persisnya bisa dilihat.

Gubuk reyot itu berukuran 3×4 meter. Atapnya sudah banyak yang bolong. Maklum, atapnya disusun dari seng bekas yang sudah berkarat dan keropos.

Meski reyot dan tampak tidak layak dihuni, pasangan suami istri, Daniel Liu dan Rosalina Sakan rela menempatinya. Saban hari, gubuk itu menjadi saksi kehidupan pasutri Daniel dan Rosalia.

Di tengah hawa panas Kota Kupang, Rabu (03/06/2020) sore, VoxNtt.com sengaja mengunjungi kediaman Daniel dan Rosalia itu.

Gubuk itu tak punya ruang tamu. Separuh didingnya dirancang dari seng dan sebagian yang lain dari pelupuh lontar.

Di dalamnya ada dua kamar dengan sekat pelupuh lontar. Kedua kamar itu berukuran 2×2 meter.

Meski hanya ada dua kamar, namun keluarga Daniel sudah membaginya dengan baik untuk menghabiskan malam.

Kamar di bagian depan rumah adalah kamar keluarga. Sedangkan satu kamar lain untuk anak-anak.

“Mari masuk, saya ada sementara iris batang pisang buat makanan babi,” sambut Daniel sumringah dari pintu belakang rumah.

Pria berusia 58 tahun tidak memakai baju saat berjumpa VoxNtt.com sore itu. Sesaat setelahnya ia memakai baju kemeja yang tampak sudah usang. Ia melepas pekerjaannya sebentar.

Sesaat berselang, Daniel mulai berkisah tentang kehidupannya bersama keluarga.

Hari-harinya Daniel bekerja sebagai office boy di Kampus Politeknik Negeri Kupang.

Setiap pagi ia sudah harus bergegas dari alamatnya di RT 17, RW 3, Desa Penfui Timur ke kampus pertanian itu.

Di sana, tugasnya menyapu dan mengepel, serta membersihkan ruangan kampus.

“Karena corona ini jadi kami sekarang pakai shift saja. Kami kerja tiap dua jam,” kata ayah empat anak itu.

Dililit Kemiskinan

Kehidupan Daniel dan keluarganya memang miris. Dari tempat tinggalnya yang reyot itu tergambar kisah betapa kemiskinan terus melilit.

Ia mengaku satu-satunya pendapatan untuk menopang keluarga hanya dari jasa sebagai office boy.

Dari penghasilannya itu, Daniel mengaku tidak mampu untuk sekadar keluar dari ritme hidup yang pelik. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga sangat susah.

Daniel Lio saat berada di bagian tengah rumahnya (Foto: Ronis Natom/ Vox NTT)

“Kami gaji Rp 1.600.000 adik. Itu tidak mampu. Masih kurang sekali. Mana urus anak-anak sekolah dan kebutuhan dalam rumah. Masih cicil bayar koperasi juga yang lain,” ucap Daniel mengeluh.

Dua anaknya kini sedang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Ia menambahkan, tanah tempat gubuk itu dibangun diberikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya.

Belakangan, Daniel nekad mengajukan pinjaman di koperasi sebesar 15 juta rupiah untuk membeli tanah itu.

“Gaji saya pakai untuk kebutuhan tumah tangga dan cicil di koperasi makanya masih kurang. Rumah ini juga belum bisa dibangun,” ketusnya.

Penggali Lubang WC

Bagi warga kompleks Matani, Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang nama Daniel Liu tentu tidak asing lagi. Ia kerap dijuluki sebagai penggali lubang WC.

Di daratan Timor umumnya dan Kupang khususnya sudah menjadi rahasia umum jika struktur tanah bebatuan.

Batu berjenis karang yang menghuni sebagian besar tanah hanya bisa ditakluki oleh orang-orang yang tahu seluk beluknya, jika hendak digali.

Konon, Daniel, selain karena asli orang Timor ia juga pandai menggali lubang WC milik warga yang ingin membangun rumah.

“Biasa dipakai oleh tetangga untuk gali lubang WC. Itu pekerjaan sampingan tapi sekarang belum ada permintaan,” kisahnya.

Dari galian itu, ia dibiayai sesuai dengan ukuran lubang, kedalaman dan struktur bebatuan.

“Kalau satu 1×1 meter biasanya 500 ribu jika ada batu karang,” ujar tetangga Daniel satu waktu kepada VoxNtt.com.

Sebelum menjadi office boy pekerjaan menggali WC adalah urat nadi nafkah keluarga Daniel. Namun kini, katanya, pekerjaan menggali lubang WC hanya ia lakukan jika ada permintaan warga.

Tidak Dijamah Penuh Pemerintah

Rumah Daniel sebetulnya sangat memprihatinkan. Rumah itu sangat reyot dan sudah keropos.

Sebagian barang menumpuk di bagian tengah rumah. Daniel membuat sebuah ruangan kecil di bagian belakang tanpa dinding untuk dapur.

Daniel mengaku, semasa pandemi Covid-19, dia tidak mendapat bantuan sosial apa pun.

“Istri saya saja yang terima PKH. Kalau bantuan sosial Covid-19 tidak ada. Katanya kalau sudah terima PKH tidak boleh dapat BST,” imbuhnya.

Menurut dia, program bantuan rumah layak huni memang sempat dibicarakan sebelumnya dengan Pemerintah Desa Penfui Timur. Namun karena kendala tanah belum berstatus pengalihan hak bantuan itu bak angin berlalu.

Selain menggantungkan hidup keluarga dari gajinya sebagai office boy dan penggali lubang WC, Daniel juga memanfaatkan waktu luangnya untuk memelihara ternak babi.

Kata dia, ternak babi piaraannya akan membantu jika dalam keadaan mendesak.

“Ini nanti mau bangun rumah. Tunggu babi agak besar mau jual untuk bisa bangun rumah. Yah, biar cukup untuk dua kamar saja dulu,” ungkapnya.

Meski Daniel berharap pada gaji seadanya, ia tetap punya tekad kuat untuk memperbaiki nasib keluarga.

Usia tak jadi soal, seberkah harapan akan didapatkan jika punya tekad baja untuk bertahan hidup. Begitu spirit hidup Daniel.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba