Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Tangisan Ibunda ODGJ Asal Matim: Lebih Baik Tuhan Ambil Dia Duluan
Feature

Tangisan Ibunda ODGJ Asal Matim: Lebih Baik Tuhan Ambil Dia Duluan

By Redaksi8 Juni 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Stefanus Yono, penderita ODGJ asal Manggarai Timur( Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Tatkalah mulut tak mampu bercuap, hanya air mata yang mampu mengatakannya.

Itulah yang tergambar dari Pudensiana Nas (50) dan Damianus Gandut (62) saat dikunjungi VoxNtt.com, Minggu (7/6/2020) siang.

Pasutri ini tinggal di kampung Ntreng, Desa Compang Teber, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Mangggarai Timur (Matim) Flores-NTT.

Desa itu tampak ramai. Warganya sebagian besar bekerja sebagai petani sawah. Suhu udara di sana sejuk dan dingin.

Compang Teber cukup dikenal dengan budidaya ikan air tawar. Namun, butuh nyali untuk sampai ke desa ini. Banyak jalan berlubang. Aspal terkelupas tak terurus.

Saat bertemu, Pudensiana nyaris menteskan air mata. Ia tak kuat menceritakan penderitaan yang dialami puteranya, Stefanus Yono.

“Lebih baik Tuhan ambil dia (Stefanus) duluan daripada saya,” ucapnya dengan nada pelan sembari meneteskan air mata.

Pudensiana cukup beralasan. Ketika sang Khalik lebih memilih dirinya yang meninggalkan bumi yang fana ini, tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk merawat puteranya itu.

“Saya rawat dia. Kasih makan dan minum dia. Membersihkan semua tempat tidurnya. Makanya Tuhan kalau mau ambil, ambil dia duluan jangan saya,” katanya.

Stefanus sudah sudah berusia 32 tahun. Ia dipasung selama 9 tahun di gubuk kecil samping rumahnya. Ia hidup tak berdaya. Makan, minum, dan berceloteh ia habiskan di gubuk itu.

Tempat tidurnya hanya beralaskan papan. Tubuhnya hanya dibaluti sehelai kain kusam dan kotor. Bau tak sedap pun begitu terasa. Lengkaplah sudah penderitaannya.

Walau kondisi sang buah hati seperti itu, sang ibu tak pernah putus asa. Ketulusan dan ketabahan yang menguatkannya. Stefanus buah hatinya. Dara dagingnya. Terembrio dari rahimnya.

“Ceing kole ge pa ata rawat hia. Ana koe cee mbaru ngo mbeot agu sekolah (siapa lagi pa yang rawat dia. Anak-anak di rumah ada yang pergi merantau dan sekolah)” imbuhnya.

Damianus Gandut ayah Stefanus mengisakan konon puteranya itu mengenyam pendidikan di SMAK Pancasila Borong.

Namun gelagat Stefanus mulai tampak ketika kelas XI SMA.

“Waktu itu dia malu mau pulang kampung. Uang sekolahnya kami sudah bayar. Tapi dia tidak pernah pergi ke sekolah,” ucapnya.

Lantas tak ada kabar Damianus dan keluarga pun datang menjemput puteranya di Borong kembali ke kampung.

Setibanya di Ntereng, Stefanus masih sanggup untuk bekerja. Namun, ia selalu murung. Sesekali mengurung diri di dalam kamar. “Kadang dia tak sadar,” kata sang ayah.

Pudensiana Nas (50) dan Damianus Gandut (62). Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT

Beberapa bulan kemudian, Stefanus kian aneh. Ia tertawa tanpa alasan, berbicara tak beraturan. Bahkan marah-marah dengan keluarga dan warga kampung.

“Kami bingung mau bawah ke rumah sakit tidak ada uang. Terpaksa kami memutuskan untuk pasung dia,” tukasnya.

Selama dalam pasungan Stefanus beberapa kali mendapat obat dari petugas pustu di desa itu. Namun, saat ini sudah tidak ada lagi. Beberapa petugas hanya datang mengambil dokumentasi, lalu pergi tanpa kabar.

Pemerintah daerah Manggarai Timur (Matim) pun tidak pernah mengunjunginya. Entah apa alasannya.

Mungkin, Pemda melihat ODGJ belum menjadi prioritas. Padahal dari penulusuran VoxNtt.com penderita ODGJ di Matim mencapai 50 orang. Itu pun hanya di beberapa desa.

Pudensiana dan Damianus memang sangat membutuhkan sentuhan pemerintah, namun mereka tetap berjuang untuk kesembuhan Stefanus.

“Eme manga ata bantu terima kasih. Eme toe lelo le ema pemerintah co”o mole ge pa (kalau ada orang yang bantu terima kasih. Kalau tidak diperhatikan oleh pemerintah mau bagaimana lagi pak),” ucap Pudensiana.

Penulis: Sandy Hayon

Editor: Irvan K

Manggarai Timur ODGJ ODGJ NTT
Previous ArticleKetika Penguasa dan Pengusaha ‘Seranjang’ dalam Kamar Tambang
Next Article Salurkan BLT, Kades Sainiup TTU Ingatkan Warganya Prioritas Beli Sembako

Related Posts

Kasus Dugaan Korupsi Eks Kadis DP3AKB Manggarai Timur Didorong Masuk Ranah Hukum

23 Mei 2026

Warga Rana Mese Titip Harapan Jembatan Permanen di Wae Musur kepada DPRD Matim

22 Mei 2026

Kasus Kekerasan Anak di Manggarai Timur Masih Tinggi, Pemkab Siapkan Kanal “Pro-Puan Matim”

20 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.