Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Tentang Waktu
Sastra

Puisi: Tentang Waktu

By Redaksi18 September 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rejeng Vox

Tentang Waktu

 

Jariku mungkin pernah tak mampu

Hingga membiarkanmu terpisah di antara waktu

Menatap langit di atas tanah yang asing

Pernah aku ditemani kesepian

 

Kesendirian yang menyiksa

Tetesan air mata yang tak berhenti

Biarlah kenangan menanggisi dirinya sendiri

Terkadang perlu berhenti sejenak, melupakan harapan

 

Waktu yang membebaskan dari segala kenangan

Takkan ada sedih yang takkan berujung

Gelak tawa yang akan terkumpul dalam periode waktu 

 

Lagu Itu 

 

Lagu terdengar dengan mudahnya tersimpan dalam pikiran 

Syair indah dalam nyanyian menuntun lidah berucap sama

Hati mengikuti pesona syair terbawa suasana dalam kesunyian

Cerita usang terkenang cinta penuh senyuman

 

Bahagia mimpi bersama saat itu sebelum terbangun dari indahnya cakrawala

Hanya mimpi dari sebuah lagu yang pernah dinyanyikan bersama

Karena kita hanyalah kenangan hari untuk besok dan cerita baru yang dituliskan

 

Semesta

 

Kita adalah sajak-sajak indah bukan aksara

Alam semesta adalah puisi beserta isinya

Awan, gunung, sawah semuanya berpuisi

Matahari seakan selalu tersenyum walau kabut sedikit anarkis

 

Hujan tidak datang kala itu, hanya saja hawa dingin menusuk hingga paruh jantungku

Kakiku sedikit gemetar, tapi aku tidak pernah ragu

Karena itu sebuah konsekuensi untuk sebuah sajak yang tidak bisa dibeli oleh apapun

Terimakasih segalanya semesta

 

Nyanyian untuk Tuhan

 

Mari hatiku segera kenakan gaunmu

Yang telah engkau tenun di sepertiga malam dengan pernak-pernik air mata

Yang engkau pasang ke sepanjang gaun itu atas nama cinta

Bergegaslah ke panggung kehidupan

 

Dimana Tuhan yang akan kau persembahkan

Lagumu telah duduk di kursi paling depan

Sedari tadi sebelum menjelang petang

Di sisi kanan dan kirinya, seluruh malaikat mengheningkan cipta

 

Dalam gema-gema doa

Hembuskan nafasmu ke hadapan-Nya

Agar menyatu dengan firman

Yang senantiasa berdebar di dada musim

Rejeng Vox
Previous ArticleBagaimana Mungkin?
Next Article Permohonan Jaringan Listrik Desa Renrua Mengendap di PLN Atambua

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.