Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Oxfam Rayakan IWD 2022, Pemimpin Perempuan Harus Didorong
KOMUNITAS

Oxfam Rayakan IWD 2022, Pemimpin Perempuan Harus Didorong

By Redaksi8 Maret 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Screenshot hybrid talkshow yang diselenggarakan oleh Lembaga Oxfam Indonesia, Selasa (08/03/2022)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Lembaga Oxfam Indonesia merayakan International Women’s Day 2022 atau Hari Perempuan Internasional dengan menggelar hybrid talkshow, Selasa (08/03/2022).

Talkshow dengan tema #PuanTuanSetara: Menghapus Bias dan Stigma pada Kepemimpinan Perempuan di Indonesia itu berlangsung baik offline maupun online melalui aplikasi zoom.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber, yakni Ketua DPRD NTT Emi J. Nomleni dan Mantan Ketua Komnas Perempuan RI Yuniyanti Chuzaifah.

Direktur Oxfam Indonesia, Laura Marianti, dalam sambutannya mengatakan pemimpin perempuan wajib didorong.

Sebab, dalam diri pemimpin perempuan yang ditemukan Oxfam pada berbagai daerah di Indonesia mampu membangun kepemimpinan yang penuh damai (peaceful).

“Mereka tidak menggunakan tombak, tetapi mereka melakukan upaya-upaua negosiasi, mengintegrasikan dengan isu-isu ekologis,” jelas Laura.

Meski begitu, dalam konteks nasional, masih ditemukan adanya kebijakan-kebijakan diskriminatif terhadap perempuan.

Misalnya, sebut Laura, di berbagai wilayah ada aturan menggunakan pakaian-pakaian tertentu. Bagi perempuan yang tidak menuruti aturan tersebut, maka bisa ditarik ke belakang saat ada acara atau tidak dinaikan pangkatnya.

“Nah, itu yang menggambarkan kepemimpinan perempuan terutama dalam birokrasi atau lembaga-lembaga negara,” katanya.

Tidak hanya itu, ada juga kebijakan untuk melarang perempuan keluar malam. Kebijakan ini dinilai Laura bisa menghambat kepemimpinan perempuan.

“Jadi, perempuan jadi pemimpin yang harus kita dorong adalah yang mengutamakan politics of care, politik yang peduli, memeluk dari pada harus menaklukkan, menstimulasi dari pada mengedepankan penghakiman,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD NTT Emi J. Nomleni dalam materinya mengatakan, kepimpinan perempuan di Indonesia sangat kurang apalagi di NTT.

Menurut dia, hal tersebut terjadi karena banyak persepsi bahwa pemimpin perempuan, baik di perusahaan maupun lembaga, cenderung tidak tegas dan tidak cepat.

Padahal, lanjut Nomleni, perempuan juga memiliki kekuatan yang sangat luar biasa untuk memimpin.

“Misalnya banyak mama-mama yang kelihatannya lemah, tetapi mereka lebih tegas kalau di rumahnya,” jelas politisi PDIP itu.

Ia menegaskan, dalam hal-hal tertentu perempuan justru lebih rasional ketimbang laki-laki. Sebab, perempuan dinilai selalu akomodatif.

“Kalau berbicara tantangan itu lahir dari waktu yang panjang, karena kita punya budaya yang patriarki yang tinggi, yang tidak memberikan ruang yang cukup untuk perempuan,” ujar Nomleni.

Menurut dia, budaya patriarki dan stigma terhadap perempuan tentu menjadi tantangan berat karena perempuan masih dianggap lemah.

“Itu juga ada dalam diri kita, secara internal kita terjebak dalam posisi itu sehingga kadang-kadang kita itu tidak percaya diri, tidak percaya diri bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi ada yang sudah tertanam di mindset kita, bahwa kalau perempuan salah omong di depan orang banyak itu bahaya, tapikan laki-laki juga sering salah ko, dan ini kita butuh waktu yang lama untuk pemulihan,” jelas Nomleni.

Penulis: Ardy Abba

 

Emi Nomleni Kabupaten Manggarai Oxfam Indonesia
Previous ArticleSeorang Pria di TTU Ditemukan Tewas Gantung Diri
Next Article 25 Pejabat di Manggarai Di-Nonjob-kan, Fraksi Demokrat Nilai Sarat Kepentingan

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Anggota DPRD Manggarai Desak Inspektorat Periksa Proyek Kantor Desa Legu yang Mangkrak 17 Tahun

11 Juni 2026
Terkini

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026

Padma Indonesia Kecam Dugaan Intimidasi Warga Tonggurambang Terkait Rencana Pembangunan Fasilitas Militer

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.