Mbay, VoxNTT.com – Awal Maret 2024, warga Desa Aeramo dihebohkan dengan penemuan seonggok jenazah seorang lelaki di dalam saluran pembuangan (SP) dengan tu. Bersama sepeda motor Supra X 125 miliknya, pria malang itu berada didasar saluran pembangunan dengan tubuh tergenang air sebelum akhirnya teridentifikasi bernama Erik Tonga (49).
Dua tahun berlalu, Kepolisian Resor Nagekeo juga tak segera merilis sebab kematian kematian Erik. Apakah ia memang tewas karena terperosok dalam saluran pembuangan karena jembatan putus atau ada sebab lain.
Sejak lama, jembatan Pomakeke masih menjadi urat nadi alternatif utama sebagai sarana penghubung dari dan menuju Desa Nangadhero dan Desa Marapokot, termasuk menuju Pelabuhan Marapokot serta beberapa akses vital lainnya di pesisir utara.
Sebaliknya, warga yang berdomisili di beberapa desa dan kelurahan di area pesisir membutuhkan akses jembatan Pomakeke untuk menjangkau Rumah Sakit Umum Daerah Aeramo, Kantor Kepolisian Resor Nagekeo serta beberapa instansi pemerintah lainnya.
Saat masih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Antonius Moti berkali-kali telah mengingatkan bahwa jembatan Pomakeke mesti segera diperbaiki. Terkait alokasi anggaran perbaikan, Anton berujar, “jika itu menjadi tanggung jawab penuh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.”
Meski telah dilaporkan ambruk sejak awal Februari 2023 akibat diterjang banjir, pembangunan kembali jembatan hingga kini belum juga terealisasi. Selama itu pula, sejumlah anggota DPRD Provinsi NTT beberapa kali mendatangi lokasi, meninjau kondisi jembatan, lalu meninggalkannya tanpa kepastian kapan pembangunan dimulai.
Fenomena serupa kembali terjadi pada Juni 2026. Ketua DPRD Provinsi NTT, Emiliana Nomleni, terlihat mengunjungi Jembatan Pomakeke saat menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-31 tingkat Provinsi NTT di Kabupaten Nagekeo. Dalam kunjungan tersebut, Emiliana didampingi anggota DPRD Provinsi NTT, Patrianus Lali Wolo.
Dalam kesempatan itu, Emiliana berkata, Pemerintah Provinsi NTT telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp9 miliar untuk membangun kembali jembatan Pomakeke. Ia menyebutkan anggaran tersebut telah disetujui dalam sidang DPRD Provinsi NTT beberapa pekan sebelumnya.
“Saya telah menyetujui pada sidang beberapa pekan lalu. Dana pengerjaan ulang Jembatan Pomakeke ini sebesar Rp9 miliar lebih,” ujar Emiliana, Senin, 22 Juni 2026.
Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan sikap anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai Hanura, Paulinus Yohanes Nuwa Veto. Tiga hari setelah Emiliana memastikan anggaran telah disetujui, Paul justru menyatakan masih akan mendorong dan berkomunikasi dengan instansi teknis terkait agar persoalan lembatan Pomakeke segera mendapat perhatian pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Paulinus Yohanes Nuwa Veto saat menggelar kegiatan reses di Kelurahan Lape pada 25 Juni 2026.
Perbedaan pernyataan antar-anggota DPRD Provinsi NTT ini menimbulkan keraguan akan keseriusan Pemprov NTT dalam menangani persolaan pembangunan jembatan Pomakeke. Meski di satu sisi, pimpinan DPRD telah menyatakan anggaran pembangunan telah disetujui. Namun di sisi lain, masih ada anggota dewan yang menyebut persoalan tersebut baru akan didorong agar mendapat perhatian pemerintah.
Sementara itu, hingga kini warga masih harus berjibaku melewati jembatan darurat Pomakeke dari bahan kayu dengan landasan besi. Selama tiga tahun pula, Pemerintah Kabupaten Nagekeo masih melakukan perbaikan seadanya terutama pada struktur kayu karena sering jebol termakan usia dan beban kendaraan yang melewatinya.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

