Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Filosofi dan Manfaat Makan Sirih Pinang bagi Komunitas Adat Suku Dhawe di Kabupaten Nagekeo
Seni dan Budaya

Filosofi dan Manfaat Makan Sirih Pinang bagi Komunitas Adat Suku Dhawe di Kabupaten Nagekeo

By Redaksi16 Agustus 20243 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Sirih pinang telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan budaya masyarakat adat Suku Dhawe di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, tetapi memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kekerabatan, penghormatan, dan kebersamaan dalam komunitas.

Demikian disampaikan oleh Mbulang Lukas, S.H, Ketua Persekutuan Masyarakat Adat Dhawe, yang kini siap dilantik menjadi anggota DPRD Nagekeo dari Partai Perindo.

“Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, tetapi memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kekerabatan, penghormatan, dan kebersamaan dalam komunitas,” ujar Ketua Persekutuan Masyarakat Adat Dhawe, Mbulang Lukas
yang kini siap dilantik menjadi anggota DPRD Nagekeo dari Partai Perindo, belum lama ini.

Meskipun dikenal sebagai makan sirih pinang komposisi yang digunakan dalam tradisi ini cukup beragam.

Selain daun dan buah sirih, masyarakat sering menggunakan pinang, baik yang mentah maupun yang kering, kapur yang dihasilkan dari sisa pembakaran kerang laut, dan kadang dipadukan dengan tembakau. Kombinasi ini memberikan rasa dan efek yang berbeda-beda bagi para penggunanya.

Namun, tidak semua anggota masyarakat Suku Dhawe terbiasa atau mau memakan sirih pinang, terutama karena efek memabukkan yang bisa ditimbulkan.

“Saya awalnya pernah mencoba, tapi saya mabuk. Mabuknya seperti mabuk moke, mual, pusing bisa sampai muntah,” kata Avrida Wula, seorang warga setempat berbagi pengalamannya.

Meski demikian, bagi mereka yang merasa cocok, sirih pinang dapat menimbulkan efek kecanduan, menjadikannya bagian dari rutinitas sehari-hari.

Mama Maria Assumpta Ratna (61) menjelaskan bahwa memakan sirih pinang bisa meningkatkan semangat dalam bekerja.

Namun, jika seseorang yang sudah terbiasa memakan sirih tidak mengonsumsinya, hal ini dapat menyebabkan perubahan perilaku, wajah pucat, dan sakit pada gusi.

Secara budaya, sirih pinang memiliki peran penting dalam berbagai upacara dan interaksi sosial. Misalnya, dalam prosesi melamar gadis Dhawe, pihak keluarga pria wajib membawa sirih dan pinang beserta perlengkapannya sebagai tanda penghormatan.

Sirih pinang juga menjadi simbol penghormatan ketika seseorang hendak masuk dan bersilaturahmi ke rumah adat Suku Dhawe, di mana tamu biasanya membawa cinderamata berupa sirih dan pinang untuk dinikmati bersama para tetua adat dan fungsionaris adat.

Selain itu, dalam membangun komunikasi antar anggota masyarakat, sirih pinang sering kali menjadi sarana untuk mempererat hubungan kekerabatan.

Pembicaraan penting dalam masyarakat Dhawe umumnya dimulai setelah sirih pinang dinikmati bersama, dan tanda berakhirnya suatu kegiatan sering kali ditandai dengan sesi makan sirih pinang, yang menandakan bahwa semua urusan telah selesai dengan baik.

Dengan demikian, tradisi makan sirih pinang tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga menjadi lambang persatuan, kerukunan, dan penghormatan yang terus dijaga dan diwariskan dalam komunitas adat Suku Dhawe di Kabupaten Nagekeo.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat makan sirih pinang. Foto diambil, Jumat, 16 Agustus 2024. (Foto: Patrianus Meo Djawa/VoxNtt.com)
Lukas Mbulang Nagekeo Suku Dhawe
Previous ArticleKetua DPW PSI NTT Ajak Kadernya Satukan Langkah Menangkan Melki – Johni di Pilgub NTT
Next Article Dinilai Sebar Berita Hoaks, DPC PKB Mabar Polisikan Lukman Edy

Related Posts

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Mantan Kabag Ops Polres Nagekeo Diduga Bawa Kabur Anak Usia 5 Tahun

28 Mei 2026

Pesta Babi: Turun Ke Bumi Papua

18 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.