Kupang, VoxNTT.com – Bentuk kepedulian terhadap kampung halaman ditunjukkan oleh Forum Orang Battuna (FORTUNA) bersama Pemerintah Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, dan masyarakat setempat dengan melakukan aksi gotong royong memperbaiki ruas jalan Provinsi NTT, Belo–Ekam yang rusak parah di wilayah Desa Tunbaun, Kabupaten Kupang, pada Jumat, 5 Juli 2025.
Perbaikan dilakukan secara manual dengan metode tambal sulam menggunakan campuran semen dan tanah putih. Hal ini dilakukan sebagai respons atas kerusakan jalan yang sudah sangat memprihatinkan dan mengganggu aktivitas harian warga, terutama para pengendara sepeda motor dan mobil.
Seluruh biaya dan material perbaikan berasal dari dana swadaya masyarakat. Penggalangan dilakukan oleh tim FORTUNA, baik dari warga yang berada di desa maupun para perantau. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai serta bahan material seperti semen dan tanah putih.
Ketua FORTUNA, Felky Timuneno, dalam wawancara dengan VoxNtt.com pada Senin, 7 Juli 2025, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul karena lambannya penanganan dari Pemerintah Provinsi NTT terhadap kerusakan jalan tersebut.

“Jika harus menunggu penanganan dari pemerintah provinsi, tentu membutuhkan waktu lama karena harus melalui berbagai proses administratif, sementara aktivitas masyarakat terus berlangsung setiap hari,” ujarnya.
Felky menegaskan, aksi gotong royong ini juga merupakan bentuk protes positif terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur di desa mereka.
“Aksi ini adalah bukti bahwa masyarakat tidak tinggal diam. Kami hanya ingin kampung halaman kami menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk ditinggali dan dilalui,” tambahnya.
Ia juga menyebut bahwa ini bukan kali pertama masyarakat Tunbaun melakukan perbaikan jalan secara mandiri. Salah satu contoh sebelumnya adalah perbaikan jalan di tanjakan SMP Negeri 3 Amarasi Barat yang dilakukan pada tahun 2024.
Lebih lanjut, Felky mempertanyakan sikap Pemerintah Provinsi NTT yang dinilai mengabaikan kondisi jalan provinsi di Desa Tunbaun.
Ia menyayangkan bahwa hotmix hanya menjangkau desa-desa tetangga seperti Kotabes di bagian timur, To’obaun di bagian barat, dan Oelpuah di bagian utara, namun tidak menyambung hingga ke Tunbaun sendiri.
“Kenapa akses jalan tidak bisa dilengkapi untuk menghubungkan konektivitas wilayah secara menyeluruh? Padahal itu akan sangat membantu mobilitas orang dan barang,” ujarnya dengan nada kecewa.
Senada dengan Felky, Jun Obehetan, salah satu warga Tunbaun, juga menyampaikan harapan besarnya agar Gubernur NTT segera memperhatikan jalan tersebut.
Ia menekankan pentingnya akses jalan ini bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian seperti pisang, kelapa, dan kemiri.
“Kami ini bisa dibilang dapurnya Kota Kupang. Kalau akses jalan rusak begini terus, bagaimana pasokan kebutuhan pangan di kota bisa terpenuhi?” ungkap Jun.
Dalam proses perbaikan, keterlibatan masyarakat sangat besar. Dari kalangan pemuda hingga orang tua, semua bergotong royong mencampur material, mengangkut semen, dan meratakan jalan.
Semangat kolektif ini menjadi simbol kuat solidaritas dan kecintaan masyarakat terhadap tanah kelahirannya.
Penulis: Ronis Natom

