Ruteng, VoxNTT.com – Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia tahun 2025, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Manggarai menggelar sosialisasi pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Ruteng, Senin, 1 Desember 2025. Kegiatan edukasi tersebut berlangsung di SMK Sadar Wisata Ruteng, SMK Santo Petrus Ruteng, dan SMK Bina Kusuma Ruteng.
Sekretaris KPAD Manggarai, Kosmas Takung, mengatakan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman remaja mengenai risiko dan upaya pencegahan HIV/AIDS.
“Kelompok usia muda merupakan kelompok yang harus dibekali pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi dan bahaya perilaku berisiko,” kata Kosmas.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong masyarakat, termasuk pelajar, agar tidak takut melakukan pemeriksaan HIV.
Pemerintah juga menjamin ketersediaan obat antiretroviral (ARV) secara gratis di fasilitas kesehatan, sesuai dengan regulasi nasional yang mengatur jaminan kesehatan masyarakat.
“Obat ARV harus diminum setiap hari secara teratur. Jika terputus, virus dapat meningkat kembali dan memperburuk kondisi kesehatan pasien,” jelasnya.
Meski demikian, Kosmas menyoroti masih adanya pasien yang berhenti minum obat atau drop out karena berbagai kendala, termasuk akses transportasi ke rumah sakit. Padahal, keberlanjutan pengobatan merupakan faktor penting bagi kesehatan Orang dengan HIV (ODHIV).
Ia memaparkan bahwa sejak tahun 2013 hingga Agustus 2025, KPAD Manggarai mencatat 535 kasus HIV/AIDS di wilayah Manggarai Raya, meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Data tersebut mencakup pasien yang melapor dan rutin mengambil obat, sementara jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena masih adanya kasus yang belum terdeteksi.
Kosmas mengungkapkan, kasus HIV di Manggarai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, terutama 25–49 tahun. Kasus pun tersebar pada beragam profesi seperti pelajar, ibu rumah tangga, pekerja swasta, hingga pekerja informal.
Tantangan lain adalah stigma yang masih kuat di masyarakat. Ia meminta warga untuk tidak memberi label atau menuduh seseorang hanya berdasarkan gejala yang mirip HIV.
“Masyarakat dianjurkan untuk menyampaikan secara baik agar warga yang memiliki gejala segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tanpa rasa takut atau malu,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui KPAD terus memperluas sosialisasi dan edukasi di sekolah, desa, dan berbagai komunitas.
Teknologi digital turut dimanfaatkan sebagai sarana edukasi serta pertukaran informasi mengenai gejala, pencegahan, dan penanganan HIV/AIDS.
Kosmas menegaskan pentingnya kesadaran generasi muda untuk menjaga diri dan menghindari perilaku berisiko.
Ia juga mengingatkan, hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV secara total, sehingga pencegahan menjadi langkah paling efektif.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Sosialisasi di tiga sekolah ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi dan mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Manggarai,” tutupnya.
Kontributor: Isno Baco

