Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pilkada»Gubernur NTT: Demokrasi Tak Cukup Diukur dari Prosedur Elektoral
Pilkada

Gubernur NTT: Demokrasi Tak Cukup Diukur dari Prosedur Elektoral

By Redaksi31 Januari 20262 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gubernur NTT, Melki Laka Lena pose bersama peserta diskusi di Aula DPD RI Provinsi NTT, pada Sabtu, 31 Januari 2026 (Foto: Gerald Katu)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Gubernur NTT, Melki Laka Lena menegaskan, kualitas demokrasi tidak boleh hanya diukur dari prosedur elektoral di tempat pemungutan suara.

Hal ini disampaikannya saat membuka diskusi publik bertajuk ‘Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD: Prospek dan Tantangan bagi Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat’ yang berlangsung di Aula DPD RI Provinsi NTT, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Dalam forum yang dihadiri oleh aliansi organisasi kepemudaan Cipayung NTT tersebut, Gubernur Melki menyoroti esensi demokrasi yang sering kali terlupakan, yakni keadilan dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki memberikan apresiasi khusus kepada Cipayung NTT yang dinilainya konsisten menjaga tradisi intelektual.

“Demokrasi kita harus berlandaskan keadilan dan kesetaraan. Saya berharap Cipayung NTT aktif mencegah politik identitas, polarisasi, dan konflik horizontal yang berpotensi memecah belah warga kita,” ujarnya.

Ia berharap pemuda tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi benteng utama dalam menangkal isu-isu negatif yang merusak tenun kebangsaan.

“Demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur elektoral semata, tetapi harus berpijak pada nilai keadilan, kesetaraan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat kecil,” ujar politisi Golkar itu.

Diskusi tersebut menjadi krusial karena mengkaji secara mendalam perbandingan mekanisme Pilkada yang terdiri dari dua kutub pemikiran, yaitu: pertama, pemilihan langsung, yakni menjamin partisipasi rakyat secara utuh namun berbiaya tinggi.

Kedua, pemilihan melalui DPRD, yakni dianggap lebih efisien namun menantang transparansi perwakilan.

Bagi Gubernur Melki, apa pun mekanismenya, tujuan akhirnya haruslah memperkuat sistem demokrasi yang sehat di masa depan.

Lebih lanjut ia menyinggung kaitan erat antara politik dan perut rakyat. Baginya, demokrasi politik akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan demokrasi ekonomi.

Karena itu, salah satu langkah nyata yang didorong Pemprov NTT adalah penguatan ekonomi kerakyatan melalui inisiatif NTT Mart.

Menurutnya, program NTT Mart dirancang untuk memastikan perputaran ekonomi tetap berada di tangan rakyat, bukan hanya segelintir pemodal.

Ia menegaskan, NTT membutuhkan pemimpin yang lahir dari proses demokratis yang bersih, yang mampu mengubah suara rakyat menjadi kesejahteraan nyata melalui penguatan ekonomi lokal.

Penulis: Herry Mandela

Cipayung Cipayung NTT Gubernur NTT Melki Laka Lena
Previous ArticleSoal Korupsi Bansos, Benny Harman Tantang KPK Berantas ‘Gembong’ di Level Kebijakan, Bukan Sekadar ‘Kaki Tangan’
Next Article Melampaui Kelemahan, Merajut Kebahagiaan dalam Kekuatan Tuhan

Related Posts

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Belanja Pegawai NTT Tembus 40 Persen, Gubernur dan Kepala Daerah Siap Lobi Tiga Kementerian

3 Maret 2026
Terkini

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.