Oleh: Florentina Ina Wai
Langit di atas Teluk Bintuni sedang memerah, seolah menumpahkan sisa panas hari ke permukaan air yang tenang. Di dalam rumah panggung yang tiangnya menancap kuat di lumpur pesisir, udara terasa lebih gerah dari biasanya. Bukan karena cuaca, melainkan karena diam yang menggantung di ruang makan.
Yakomina duduk membungkuk. Di hadapannya, sempe tanah liat berisi papeda masih mengepul. Tangannya lincah memutar dua bilah bambu, menggulung sagu kental itu. Namun, hatinya tidak sekental papeda yang ia aduk. Pikirannya encer, tercerai-berai.
“Yakomina, dengar Bapa baik-baik,” suara Pace Sakarias pecah, mengakhiri keheningan yang sedari tadi mencekik. Ia tidak menatap anaknya. Matanya fokus pada Ikan Kuah Kuning di piringnya, seolah warna kuning kunyit itu lebih penting daripada air mata putri semata wayangnya.
“Bapa dan Mama tidak mau ko hidup bergantung pada nasib laut,” lanjut Pace, suaranya rendah tapi tegas. “Laki-laki itu nelayan, Yakomina. Nelayan kecil. Kalau laut sedang baik, ko makan ikan. Kalau laut marah, ko makan apa? Cinta tidak bisa dimasak jadi gulai.”
Pace menunjuk ke arah jendela. Di kejauhan, lampu-lampu kilang LNG berkedip sombong, cahaya buatan yang seolah mengejek bintang-bintang di langit Bintuni yang kian redup.
“Lihat itu. Bintuni ini kaya. Gas ada di bawah tanah kita. Bapa mau ko kawin dengan orang yang punya kepastian. Pegawai negeri, atau pekerja kilang. Mereka punya seragam, punya gaji tetap tiap bulan. Itu yang bisa lindungi ko. Bapa tidak mau ko hidup bau lumpur dan garam seumur hidup.”
Di sudut ruangan, Mace Dorkas hanya diam. Tangannya sibuk merajut noken, tas anyaman khas Papua. Setiap simpul tali yang ia tarik seolah mewakili kata-kata yang tertahan di tenggorokannya. Ia mengerti kekhawatiran suaminya, tapi ia juga mengerti detak jantung anaknya. Mace seperti pohon bakau di tepi teluk. Diam, menahan ombak, menyerap racun kekecewaan demi menjaga tanah tempat keluarganya berpijak.
Yakomina meletakkan bilah bambunya. Papeda di piringnya sudah mulai dingin dan mengeras. Persis seperti suasana hatinya.
“Bapa, hati saya bukan barang dagangan,” bisik Yakomina, suaranya nyaris tak terdengar.
Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dan berlari keluar. Kaki telanjangnya menapak kayu dermaga yang basah. Di ujung dermaga, di mana air sungai bertemu air asin, Ayub sudah duduk di sana. Laki-laki itu sedang menambal jaring, tangannya yang kasar penuh dengan bekas luka kecil dan garam yang mengkristal.
“Ko dengar semua?” tanya Ayub tanpa menoleh. Suaranya serak, berat seperti jangkar kapal.
Yakomina duduk di sampingnya, membiarkan kakinya tergantung di atas air hitam. “Pace benar, Rub. Dia cuma takut saya lapar.”
Ayub berhenti menambal jaring. Ia menatap lampu-lampu kilang di kejauhan, lalu menatap Yakomina. “Pace Sakarias Kepala Desa. Dia biasa urus orang banyak, biasa urus angka. Saya cuma punya sampan. Tapi Yakomina, laut ini tidak pernah janji, tapi dia tidak pernah bohong. Kalau saya pergi, saya pasti pulang. Kalau saya dapat ikan, itu untuk ko.”
“Tapi mereka mau kepastian, Rub.”
Ayub tersenyum tipis, senyum yang penuh luka. “Kepastian itu mahal, Mina. Kadang harganya adalah hilangnya rasa. Saya tidak bisa janji gaji tetap, tapi saya janji tidak akan pernah biarkan ko tidur dalam keraguan.”
Malam itu, Yakomina pulang dengan mata bengkak. Namun, keesokan paginya, Ayub melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
Ia tidak datang dengan membawa uang atau surat lamaran kerja. Ia datang dengan memakai baju terbaiknya, meski kainnya sudah memudar warnanya. Ia mengetuk pintu rumah Pace Sakarias saat sang Kepala Desa sedang memeriksa buku kas desa di ruang kerja.
Mace Dorkas membukakan pintu. Ia tidak menghalangi, hanya memberi anggukan kecil, sebuah restu diam-diam dari seorang ibu.
Ayub masuk, lalu bersimpuh sopan di hadapan Pace Sakarias. Pria tua itu menghentikan hitungannya, menatap Ayub dari balik kacamata tebalnya. Tatapan itu menelanjangi, mengukur nyali di hadapan tumpukan lembaran rupiah yang mewakili tanggung jawab desa.
“Pace,” mulai Ayub, suaranya bergetar tapi matanya tajam. “Saya tahu Pace mau yang terbaik untuk Yakomina. Pace mau anak Pace aman.”
Pace diam, menunggu.
“Saya tra punya NIP. Saya tra punya seragam cokelat yang bisa memantulkan matahari. Tapi saya punya tangan ini,” Ayub mengangkat kedua tangannya yang pecah-pecah. “Dan saya punya sampan yang siap saya jual untuk modal usaha. Saya akan berhenti jadi nelayan harian. Saya akan jadi pengepul ikan. Saya akan kerja sama dengan orang kilang, suplai ikan segar untuk mereka. Saya akan bangun ekonomi, bukan cuma tunggu ikan datang.”
Pace Sakarias terkejut. Ia tidak menyangka nelayan muda ini punya rencana. Selama ini ia hanya melihat Ayub sebagai pemimpi di atas sampan, bukan sebagai kepala keluarga yang visioner.
“Saya tidak minta Pace langsung setuju,” lanjut Ayub. “Beri saya waktu enam bulan. Jika dalam enam bulan saya tidak bisa buktikan saya bisa kasih Yakomina hidup layak, saya akan pergi dan tidak akan pernah ganggu keluarga Pace lagi. Tapi jika saya bisa… mohon, jangan ukur cinta saya dari kain baju yang saya pakai.”
Hening. Hanya suara kipas angin berputar dan denting jam dinding yang terdengar.
Pace Sakarias menatap tumpukan uang di mejanya, lalu menatap Ayub. Perlahan, ia menutup buku kasnya. Bunyi brak saat buku itu tertutup terdengar seperti palu keputusan.
“Enam bulan,” kata Pace akhirnya. Suaranya tidak lagi keras, hanya lelah dan penuh harap. “Ko punya enam bulan untuk buktikan ko bukan cuma pandai bicara di dermaga. Kalau ko gagal, ko hilang dari depan mata Bapa.”
Ayub mengangguk mantap. “Siap, Pace.”
Malam itu juga, Ayub pamit. Ia akan berangkat ke laut lepas, bukan untuk menangkap ikan sekadar makan, tapi untuk merintis jalan pulangnya.
Di ujung dermaga, Yakomina berdiri sendirian. Angin malam membawa aroma lumpur dan garam, aroma kampung halamannya. Ia tidak lagi menangis. Ia menatap kegelapan teluk yang menelan perahu Ayub.
Di genggaman tangannya, ada sepotong kecil noken pemberian Mace. Simpul-simpulnya rapat, kuat. Yakomina mengerti sekarang. Kesetiaan bukan tentang menunggu tanpa ujung, tapi tentang percaya pada janji yang diperjuangkan.
Di bawah langit Bintuni yang kembali bertabur bintang, di antara kilauan lampu pabrik yang dingin, Yakomina berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menunggu. Bukan sebagai korban keadaan, tapi sebagai penjaga dermaga, tempat satu-satunya kapal yang ia tunggu akan berlabuh, membawa pulang harga diri yang tak bisa dibeli oleh jabatan apa pun.

