Borong, VoxNTT.com- Mariana Sartini, sudah empat bulan menjadi kader kesehatan jiwa (Keswa) di Desa Compang Kantar, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Sebelumnya ia adalah kader posyandu.
Atas ajakan dari petugas kesehatan jiwa di puskesmas Peot, akhirnya ia kini menjadi kader Keswa yang didampingi oleh Yayasan Ayo Indonesia.
Empat bulan menjadi, Kader Keswa di desa itu, perjuangan mengentas stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tak berjalan mulus. Ia menghadapi berbagai tantangan di lapangan saat mengunjungi orang dengan disablitas psikososial (ODDP) sebutan halus dari ODGJ.
“Tantangannya banyak sekali. Salah satunya adalah pasien tidak mau bertemu kita. Ada juga pasien yang tidak mau mengonsumsi obat karena ada efek sampingnya,” tutur Mariana usai kegiatan posyandu jiwa yang difasilitasi Yayasan Ayo Indonesia, di Desa Compang Kantar, pada Kamis, 26 Maret 2026.
Tantang lain, lanjut dia, pasien ODGJ susah ditemui. Sebab, ada dari mereka yang menginap di kebun.
Meskipun begitu, sebagai kader, dirinya tak pernah lelah melayani sahabat-sahabat ODDP di desa itu. Selama empat bulan terakhir, dirinya bersama rekan kader keswa di wilayah itu rutin mengunjungi sahabat-sahabat ODGJ yang berjumlah enam orang. Dalam satu bulan mereka mengunjungi ODDP dua kali.
Dalam setiap kunjungan rumah, Mariana selalu memastikan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dengan menanyakan apakah obat yang diberikan diminum secara teratur dan sudah dihabiskan atau belum.
Ia juga menggali informasi dari keluarga mengenai kondisi keseharian pasien, seperti kebiasaan mandi, adanya efek samping obat, serta apakah pasien sudah kembali beraktivitas, termasuk bekerja di kebun atau beternak.
Melayani mereka yang ODP ini bukan hanya soal obat, tetapi perlakuan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesembuhan saudara yang sakit.
“Saat kunjungan kita selalu mengedukasi pasien dan keluarga tentang sakitnya. Kita eduksi soal stigma ODGJ. Ini yang kita terus lakukan. Tidak pernah bosan kita omong ini. Kami selalu tekankan bahwa sakit ini bukan beban atau aib keluarga. Sakit ini juga bisa disembuhkan seperti sakit lain asal minum obat dan perlakuan yang positif dari keluarga,” ungkap Mariana.
Ia mengaku berkat pendampingan petugas kesehatan dan kader Keswa dampingan Ayo Indonesia, 6 ODDP di desa compang kantar sudah ada perkembangan. Misalkan, sebelumnya OODP itu jalan-jalan sembarang, kini sudah bisa tenang-tenang di rumah. Ada yang aktivitas seperti biasa lagi. Ini berkat minum obat dan juga perlakuan keluarga.
“Bicara dengan ODP itu harus lembut tidak boleh kasar-kasar. Tidak boleh anggap mereka sebagai beban keluarga,” tegas dia.
Kini, ia tak sendiri sebagai kader Keswa. Kader keswa di desa itu sudah bertambah jadi dua orang. Sehingga, tugasnya melayani para sahabat ODGJ di wilayah itu sudah tidak terlalu berat.
Mariana pun mengisahkan awal mulanya menjadi kader Kesawa dampingan Ayo Indonesia. Kala itu dirinya menerima tawaran dari pihak Pustu, kemudian dari koordinator Keswa PKM Peot.
“Saya terima tawaran mereka karena keluarga kami juga ada ODP. Modal pengalaman merawat anggota keluarga saya tergerak mau menjadi kader Keswa untuk sahabat-sahabat ODP di desa ini,” imbuh dia.
Koordinator Keswa Puskesmas Peot, Maria Goreti Silviani Gage, mengatakan kegiatan posyandu jiwa di kelompok Nai Ngalis, Desa Compang Kantar itu terselenggara berkat kolaborasi puskesmas Peot dan Yayasan Ayo Indonesia.
Nama kegiatan tersebut, lanjut dia, adalah terapi aktivitas kelompok (TAK) di Kelompok Peduli Kesehatan Jiwa (KPKJ) Nai Ngalis.
“Tujuannya untuk Meningkatkan kesehatan mental, keterampilan sosial, dan kemandirian ODDP,” kata Maria.
Dalam kegiatan itu, para kader Keswa, melakukan ice breaking, dan penjelasan tentang Keswa.
Kemudian, peserta yang ikut kegiatan menebak gambar, mewarnai, sharing dalam bentuk kelompok serta mempresentasi hasil diskusi kelompok terakhir kesimpulan.
“Peserta kegiatan tadi semangat. Kita juga senang mereka bisa aktif saat kegiatan,” katanya.
Harapannya, lanjut dia, dengan kegiatan itu, para ODDP lebih aktif, percaya diri, dan memiliki keterampilan sosial.
Selain itu, keluarga dan masyarakat lebih memahami serta mendukung ODDP serta tercipta lingkungan yang ramah kesehatan jiwa.
Ia menambahkan, kegiatan itu melibatkan Pemerintah Desa Compang Kantar, kader Keswa, tokoh masyarakat, ODDP serta keluarga.
Kepala Desa Compang Kantar, Konstantinus Rumat, sangat mengapresiasi kegiatan dari Ayo Indonesia dan puskesmas Peot.
“Kegiatan dari PKM Peot dan Yayasan Ayo Indonesia sangat luar biasa. Dengan adanya pendampingan seperti ini, para ODDP di desa ini sudah berangsur pulih,” ujar Konstantinus.
Ia mengatakan, pendampingan terhadap para ODDP memang butuh orang-orang terlatih. Selain itu, edukasi secara terus menerus perlu dilakukan untuk membongkar stigma terhadap para ODGJ.
Ia juga mengapresiasi terhadap bantuan ternak yang sudah diberikan oleh Yayasan Ayo Indonesia kepada salah satu ODDP di desa itu.
“Semoga masih ada lagi bantuan lain untuk mereka ke depan,” ungkap dia.
Pantauan VoxNtt.com, selain edukasi, para kader Keswa juga mengecek tekanan darah bagi peserta yang hadir tak terkecuali sahabat-sahabat ODDP. Usai Mereka juga memberikan obat kepada para ODDP.
Kontributor: Nansi Taris

