Kupang, VoxNTT.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Alexander B. Koroh, tidak membacakan sambutan resmi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat menghadiri kegiatan di Desa Kakaneuk, Kecamatan Malaka Tengah pada Rabu, 8 April 2026.
Padahal, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan gubernur, penyampaian sambutan tersebut merupakan bagian dari protokoler yang wajib dilaksanakan.
Sikap Alexander tersebut dikritik oleh Anggota DPRD NTT dari Fraksi Golkar, Agustinus Nahak. Ia menilai Kepala Dinas PMD NTT tidak menjalankan etika birokrasi dalam kegiatan resmi di Kabupaten Malaka.
Agustinus menegaskan tindakan itu mencerminkan sikap tidak loyal dan tidak disiplin sebagai aparatur sipil negara.
“Beliau ke sana dalam rangka perjalanan dinas mewakili gubernur NTT. Apa alasannya sehingga tidak membacakan sambutan gubernur? Ini sama dengan tidak loyal dan tidak disiplin,” tegas Agustinus yang juga Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT pada Minggu, 12 April 2026.
Ia juga meminta Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi NTT selaku pembina aparatur sipil negara segera melakukan pembinaan terhadap Alexander.
“Saya minta ibu Plh Sekda NTT sebagai pembina ASN melakukan pembinaan ulang terhadap Kepala PMD ini,” ujarnya.
Selain itu, Agustinus menyoroti penggunaan bahasa Inggris dalam pidato yang disampaikan di hadapan masyarakat desa. Menurut dia, penggunaan bahasa asing dalam forum tersebut tidak tepat.
“Terkait pidato dalam bahasa Inggris, untuk makan puji boleh, tapi salah tempat dan situasi. Itu di kampung, mana orang desa mengerti maksudnya, kecuali ada penerjemah,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam kegiatan tersebut, Alexander B. Koroh menyatakan isi sambutan gubernur pada prinsipnya sama dengan yang telah disampaikan oleh Wakil Bupati Malaka, sehingga jika dibacakan kembali akan terkesan mengulang.
“Kalau saya baca lagi sambutan dari Pak Gubernur NTT, nanti akan double lagi,” ujarnya saat acara berlangsung.
Namun, alasan tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan. Dalam tata kelola pemerintahan, sambutan pimpinan daerah tetap harus dibacakan sebagai bentuk penghormatan terhadap institusi dan bagian dari etika birokrasi.
Selain itu, penggunaan bahasa Inggris di tengah masyarakat desa juga memicu reaksi di media sosial. Sejumlah warganet menilai langkah tersebut tidak mencerminkan kepekaan terhadap audiens.
“Ini bukan soal gaya, tapi soal etika dan memahami masyarakat yang dihadapi,” tulis salah satu komentar warganet.
Dalam kesempatan yang sama, Alexander juga menyampaikan pesan kepada para orang tua agar memperhatikan kesehatan dan kondisi mental anak-anak.
Ia menyinggung peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang diduga bunuh diri sebagai pengingat bagi semua pihak.
Penulis: Ronis Natom

